Dalam dunia modern yang diliputi oleh hegemoni materialisme, kehampaan spiritual, dan krisis moral, Nuzulul Qur’an menjadi pedoman yang hakiki. Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca di atas lembaran mushaf. Ia juga menuntun dan mengarahkan setiap perilaku dan kesadaran kita sesuai dengan ajaran Sang Pencipta.
Sejarah telah membuktikan bahwa masyarakat yang berpegang teguh pada Al-Qur’an akan mencapai puncak kejayaan. Andalusia adalah contoh bagaimana peradaban Islam mencapai puncak ilmu dan kebijaksanaan ketika menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Sebaliknya, ketika umat Islam menjauhi Al-Qur’an, mereka terpuruk dalam kehinaan dan ketertinggalan.
Dengan demikian, pertanyaan yang muncul bukan tentang apakah Al-Qur’an masih relevan di zaman ini? Namun, apakah kita selalu bersedia menjadikan Al Qur’an sebagai cahaya dalam perjalanan hidup kita. Sebab, kegelapan tak akan pernah lenyap dengan sendirinya tanpa cahaya yang mampu mengusirnya.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Artikel Terkait
Semilir Angin dari Lembah Taubat
Viral! Miss Asia Indonesia Kalisa Putri Dapat THR Mobil dan Dollar, Kira-kira dari Siapa Ya?
Mutiara Pagi: Puasa dan Kemuliaan (Bagian 1781)
Konstantinopel Jatuh ke Tangan Turki Utsmaniyah
KH Maruf Amin Hadiri Silaturahmi Ramadan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Sri Sultan Hamengkubuwono IX Bikin Pingsan si Mbok Pedagang Beras
Bulan Turunnya Ampunan
Khotmil Qur’ani Bilqolam: Gerakan BKPRMI Cianjur Berantas Buta Huruf Al-Qur’an
YBM PLN Berikan Santunan untuk Santri Yatim dan Dhuafa di Pesantren Unggul Salsabila Zainia
Mutiara Pagi: Qadar (Bagian 1782)