Nuzulul Qur'an: Cahaya dalam Kegelapan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 17 Maret 2025 | 07:58 WIB
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal

Oleh Mohamad Sinal

Malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi panggilan untuk kembali kepada cahaya. Di tengah hiruk-pikuknya zaman, Al-Qur’an tetaplah menjadi jawaban. Ia adalah bintang yang membimbing, obor yang menerangi, dan samudra hikmah yang tak bertepi.

Dalam Surah Al-Isra’ ayat 9, Allah berfirman: "Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."

Malam itu, langit Mekah berselimutkan kesunyian. Gunung-gunung seakan-akan berdiri bisu. Lembah-lembah tenggelam dalam kegelapan.

Di dalam gua kecil di Jabal Nur, seorang hamba duduk dalam keheningan, merenungi perjalanan hidup dan nasib umatnya. Tiba-tiba, kegelapan itu terbelah oleh cahaya wahyu pertama: "Iqro' bismi rabbika alladzi khalaq..." (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan). Sejak malam itu, dunia menampakkan wajah yang berbeda.

Nuzulul Qur'an adalah peristiwa yang membawa terang bagi semesta. Menerangi lorong-lorong gelap kehidupan dengan cahaya kebenaran dan petunjuk. Ia hadir bukan hanya seperti cahaya lilin yang menerangi sekelilingnya, tetapi menyinari seluruh alam semesta.

Dalam perspektif sejarah, peristiwa Nuzulul Qur’an bukan sekadar turunnya teks suci ke bumi. Ia adalah mukjizat agung yang menghidupkan jiwa-jiwa yang bingung. Mukjizat yang teramat hebat yang menuntun jiwa-jiwa yang tersesat.

Al-Qur’an turun dalam dua bentuk: pertama, secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia pada Lailatul Qadr. Kedua, secara bertahap kepada Rasulullah selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Ibnu Katsir menjelaskan, turunnya Al-Qur’an secara bertahap merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia dapat memahami dan mengamalkannya dengan sempurna.

Al-Thabari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang membedakan antara hak dan batil. Pembeda antara petunjuk dan kesesatan. Ia datang sebagai pengingat bagi manusia yang tertidur dalam gelapnya kejahilan.

Senada dengan itu, Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya wahyu. Al Qur’an juga pedoman hidup yang mengangkat derajat manusia dari kejahiliyahan menuju peradaban yang bermartabat. Menyinari hati dan pikiran manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang.

Jika kegelapan diibaratkan sebagai kabut kebingungan dan keterasingan, Al-Qur’an adalah lentera yang menembus pekatnya kealpaan manusia. Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang tak pernah habis digali. Setiap ayat mengandung makna mendalam yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang bersedia membuka hati dan akal.

Adapun Buya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar, menggambarkan bahwa turunnya Al-Qur’an seperti cahaya yang mengusir malam. Ia adalah hujan yang menyuburkan tanah-tanah gersang dalam hati manusia. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan roh yang menghidupkan dan membangkitkan semangat umat manusia untuk berpikir, bertindak, dan membangun peradaban.

Jalaluddin as-Suyuti dalam Tafsir Jalalain menekankan bahwa Al-Qur’an turun sebagai jawaban atas problematika kehidupan. Setiap wahyu membawa solusi atas kegelisahan manusia. Baik yang ditimbulkan oleh persoalan individu, sosial, maupun politik.

Sementara itu, Hasbi Ash-Shiddieqy menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kompas yang mengarahkan manusia kepada tujuan hakiki. Memberikan petunjuk kepada manusia tentang kemuliaan hidup yang sejati. Membawa hidup manusia pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Semilir Angin dari Lembah Taubat

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X