Oleh Mohamad Sinal
Malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi panggilan untuk kembali kepada cahaya. Di tengah hiruk-pikuknya zaman, Al-Qur’an tetaplah menjadi jawaban. Ia adalah bintang yang membimbing, obor yang menerangi, dan samudra hikmah yang tak bertepi.
Dalam Surah Al-Isra’ ayat 9, Allah berfirman: "Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."
Malam itu, langit Mekah berselimutkan kesunyian. Gunung-gunung seakan-akan berdiri bisu. Lembah-lembah tenggelam dalam kegelapan.
Di dalam gua kecil di Jabal Nur, seorang hamba duduk dalam keheningan, merenungi perjalanan hidup dan nasib umatnya. Tiba-tiba, kegelapan itu terbelah oleh cahaya wahyu pertama: "Iqro' bismi rabbika alladzi khalaq..." (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan). Sejak malam itu, dunia menampakkan wajah yang berbeda.
Nuzulul Qur'an adalah peristiwa yang membawa terang bagi semesta. Menerangi lorong-lorong gelap kehidupan dengan cahaya kebenaran dan petunjuk. Ia hadir bukan hanya seperti cahaya lilin yang menerangi sekelilingnya, tetapi menyinari seluruh alam semesta.
Dalam perspektif sejarah, peristiwa Nuzulul Qur’an bukan sekadar turunnya teks suci ke bumi. Ia adalah mukjizat agung yang menghidupkan jiwa-jiwa yang bingung. Mukjizat yang teramat hebat yang menuntun jiwa-jiwa yang tersesat.
Al-Qur’an turun dalam dua bentuk: pertama, secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia pada Lailatul Qadr. Kedua, secara bertahap kepada Rasulullah selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Ibnu Katsir menjelaskan, turunnya Al-Qur’an secara bertahap merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia dapat memahami dan mengamalkannya dengan sempurna.
Al-Thabari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang membedakan antara hak dan batil. Pembeda antara petunjuk dan kesesatan. Ia datang sebagai pengingat bagi manusia yang tertidur dalam gelapnya kejahilan.
Senada dengan itu, Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya wahyu. Al Qur’an juga pedoman hidup yang mengangkat derajat manusia dari kejahiliyahan menuju peradaban yang bermartabat. Menyinari hati dan pikiran manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang.
Jika kegelapan diibaratkan sebagai kabut kebingungan dan keterasingan, Al-Qur’an adalah lentera yang menembus pekatnya kealpaan manusia. Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang tak pernah habis digali. Setiap ayat mengandung makna mendalam yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang bersedia membuka hati dan akal.
Adapun Buya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar, menggambarkan bahwa turunnya Al-Qur’an seperti cahaya yang mengusir malam. Ia adalah hujan yang menyuburkan tanah-tanah gersang dalam hati manusia. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan roh yang menghidupkan dan membangkitkan semangat umat manusia untuk berpikir, bertindak, dan membangun peradaban.
Jalaluddin as-Suyuti dalam Tafsir Jalalain menekankan bahwa Al-Qur’an turun sebagai jawaban atas problematika kehidupan. Setiap wahyu membawa solusi atas kegelisahan manusia. Baik yang ditimbulkan oleh persoalan individu, sosial, maupun politik.
Sementara itu, Hasbi Ash-Shiddieqy menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kompas yang mengarahkan manusia kepada tujuan hakiki. Memberikan petunjuk kepada manusia tentang kemuliaan hidup yang sejati. Membawa hidup manusia pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Artikel Terkait
Semilir Angin dari Lembah Taubat
Viral! Miss Asia Indonesia Kalisa Putri Dapat THR Mobil dan Dollar, Kira-kira dari Siapa Ya?
Mutiara Pagi: Puasa dan Kemuliaan (Bagian 1781)
Konstantinopel Jatuh ke Tangan Turki Utsmaniyah
KH Maruf Amin Hadiri Silaturahmi Ramadan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Sri Sultan Hamengkubuwono IX Bikin Pingsan si Mbok Pedagang Beras
Bulan Turunnya Ampunan
Khotmil Qur’ani Bilqolam: Gerakan BKPRMI Cianjur Berantas Buta Huruf Al-Qur’an
YBM PLN Berikan Santunan untuk Santri Yatim dan Dhuafa di Pesantren Unggul Salsabila Zainia
Mutiara Pagi: Qadar (Bagian 1782)