Perang Global terhadap Agama dan Moralitas

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 13 Agustus 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi agama islam (pexels/Meruyert Gonullu)
Ilustrasi agama islam (pexels/Meruyert Gonullu)

 

Oleh: Shamsi Ali Al-Kajangi

Beberapa waktu lalu saya menuliskan tentang Olimpiade Paris dan perang terhadap agama dan moralitas manusia.

Berbagai acara yang ditampilkan, khususnya ketika penampakan apa yang diyakini umat Kristiani sebagai “jamuan terakhir” (the last supper) Yesus dan murid-muridnya, digantikan dengan penampilan kelompok gay (homoseksual dan lesbian) membawakan acara Satanic Show.

Bagi sebagian yang sadar agama dan moralitas, hal ini jelas penghinaan dan peperangan terhadap agama dan moralitas itu sendiri.

Sejarah Barat sesungguhnya bukan baru dan tidak aneh dengan hal ini. Ketidak senangan dan permusuhan (animositàs) Barat terhadap agama dan moralitas memang memiliki sejarah panjang.

Bahkan jika kita jujur dengan sejarah agama Kristiani, awal dari pengrusakan agama itu dari keasliannya sebagai ajaran menoteis melalui Yesus terjadi di dunia Barat.

Pengobok-obokan agama Kristen sebagai agama tauhidi yang diajarkan oleh Yesus terjadi melalui Konferensi Nicea di Yunani hanya sekitar seratusan tahun pasca diangkatnya nabi Isa AS.

Prilaku atau karakter anti agama dan moralitas itu berlanjut dalam sejarah perjalanan Barat, Eropa khususnya. Pandangan liberalisme terlahir dalam berbagai segmen kehidupan.

Salah satunya ditujukan untuk menggusur pandangan kehidupan yang berlandaskan agama dan moralitas. Bahkan konsep yang paling mendasar dalam kehidupan manusia terdefenisikan dengan defenisi iliberal yang antitesis dengan pandangan agama dan moralitas. Salah satunya sebagai misal, defenisi kebebasan (freedom) yang tidak memiliki nilai dan batasan.

Kecenderungan ini (anti dan peperangan kepada agama dan moralitas) seiring dengan kemajuan dan kemenangan Barat, khususnya melalui kolonialisasi dunia lain. Mereka tidak saja merampok kekayaan dunia nkn Barat.

Tapi juga pandangan dan defenisi nilai mereka paksakan kepada dunia non Barat, baik secara terang-terangan maupun dengan berbagai “cover up” yang menggiurkan. Kemajuan dan kekuatan perangkat yang Barat miliki menjadikan bangsa-bangsa dunia lainnya tunduk dan sujud kepada defenisi dan nilai kehidupan yang ditawarkan oleh Barat.

Pada saat yang sama, sebagaimana dalam sebuah pepatah bahasa Arab dikatakan: “al-maghluub muula’un bil ittiba’ bil ghaalib” (yang kalah cenderung mengekor kepada yang menang).

Dunia non Barat, termasuk dunia Islam, dengan sangat mudah ditundukkan dan terus terjajah secara ideologi dan pandangan kehidupan Barat (western mindset) ini. Dunia Islam tidak saja dengan mudah dan terbuka mengadopsi defenisi dan nilai kehidupan Barat itu.

Lebih jauh ikut terbawa arus dan merasa jika kemajuan (development) dan modernitas (modernity) itu harus sejalan dengan defenisi dan mindset Barat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X