Oleh: KH Fahrur Rozi
Saya sedang berusaha mencari aplikasi Auto Delete untuk menghapus otomatis semua konten sampah yang bertebaran setiap saat di WAG, karena setiap hari selalu saja group WA penuh sampah konten YouTube atau tulisan provokator yang penuh racun.
Saya pikir seharusnya ada aplikasi seperti di Telegram yang telah merilis fitur untuk membantu pengguna menyetel pengatur waktu hapus otomatis global untuk secara otomatis menghapus pesan di semua obrolan baru.
Medsos sebagai kemajuan budaya manusia dalam perkembangannya juga dimanfaatkan untuk kepentingan pragmatis oleh sebagian penggunanya. Tak ayal, akhirnya medsos kin sudah menjadi belantara bar-bar yang penggunanya dapat memposting apa saja.
Seperti konten berbau SARA, polemik nasab habaib, , agitasi politik, berita bohong (hoax) hingga pornografi. Tak sedikit kekerasan massa terjadi hanya karena informasi sesat dari medsos. Ini tentu sangat memprihatinkan .
Apa yang menjadi kegalauan para ulama atas ulah konten kreator itu sebenarnya sudah lama diperbincangkan pula dalam ranah obrolan para pembuat konten.
Entahlah, apa penyebab mengapa konten-konten sampah itu begitu massif. Lihat betapa banyak penggemar-penggemar konten sampah terus menyebarkan konten adu domba secara brutal di WAG
Sebenarnya Pemerintah telah menerbitkan instrumen hukum yang mengatur tentang teknologi informasi yaitu UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sejumlah orang telah dijerat pidana karena terbukti melanggar ketentuan ITE.
Konten 'sampah' di medsos sepertinya tidak mudah dihapus. Hingga saat ini masih kita dapati konten - konten yang menyerang keyakinan seseorang dan hak pribadi. Termasuk clickbait tipu-tipu judul konten yang tidak sesuai isi kontennya.
Parahnya sebagian masyarakat mudah terkecoh judul dan pesan medsos, lalu secara gegabah mereka percaya dan merasa perlu untuk membagikannya.
Sayangnya, meskipun hujatan, cacian bahkan yang lebih ekstrim lagi melaporkan akun-akun yang dianggap sampah tersebut ternyata tetap saja bisa tayang di youtube dan viral.
Konten yang sejatinya isinya dianggap menipu ternyata masih mendapatkan pengikut dan penonton yang setia. Dan karena subscribernya berjumlah jutaan, maka otomatis menghasilkan banyak pundi-pundi uang.
Ada juga kemungkinan mereka dimanfaatkan oleh intelijen hitam untuk kepentingan pengalihan kasus hukum dan issue nasional yang sedang terjadi sekarang agar luput dari perhatian masyarakat awam.
Waspadalah jangan ikut menjadi korban konten kebencian.
Artikel Terkait
Potret Plh. Kadisdik Jabar Pakai Mobi Listrik Bantuan Presiden RI yang Diberikan kepada SMKN 1 Purwakarta
Mutiara Pagi: Yang Maha Menyaksikan (Bagian 1579)
Komitmen Jalani Aturan dengan Kejujuran
PBSI, Olimpiade, dan Gawat yang Melekat Setelah Kiamat
Islam Progresif: Kontestasi Pemikiran Islam di Indonesia
Sekolah Politik Kampus, Upaya Meningkatkan Kapabilitas dan Kredibilitas Kader PMII
Kenapa Tuhan Tidak Menjelaskan Langsung Makna Kitab Suci?
Tanda-tanda Husnul Khotimah Mati di Hari Jum'at
Mutiara Pagi: Yang Maha Benar (Bagian: 1.580)
Gelar Rakor, PAC GP Ansor Karangtengah Cianjur Siap Bergerak untuk Menggaungkan ASTA-BISA