PBSI, Olimpiade, dan Gawat yang Melekat Setelah Kiamat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 10 Agustus 2024 | 10:00 WIB
Tim Bulutangkis Hanya Raih 1 Medali Perunggu di Olimpiade 2024, PBSI Jadi Sorotan dan Janjikan Evaluasi (PBSI)
Tim Bulutangkis Hanya Raih 1 Medali Perunggu di Olimpiade 2024, PBSI Jadi Sorotan dan Janjikan Evaluasi (PBSI)

Oleh: Putra Permata Tegar Idaman

1. PBSI, Olimpiade, dan Gawat yang Melekat

Bagi Indonesia, gagal meraih emas cabang olahraga badminton di Olimpiade adalah kiamat. Yang makin berbahaya, situasi gawat ini masih akan terus melekat. PBSI telah melakukan yang terbaik dalam persiapan menuju Olimpiade Paris 2024.

Dalam tim ad hoc yang dibentuk Januari, meski telat karena race to Olympics sudah setengah jalan, mereka sudah mengerahkan upaya terbaik untuk mendukung persiapan atlet-atlet.

Sebelum tampil di Olimpiade, PBSI juga sudah mengirim Tim Badminton Indonesia untuk pemusatan latihan di Chambly. Semua itu dilakukan guna menciptakan atmosfer yang kondusif untuk para pemain agar langsung siap begitu pertempuran tiba.

Namun seperti yang sudah dipahami banyak orang. Kerja keras di dunia olahraga bukanlah sebuah hal yang istimewa karena semua atlet yang tampil di Olimpiade pasti melakukannya.

Ujungnya, hanya hasil akhir yang dihitung. Pemenang akan tertawa lebar, mungkin diikuti juga senyum yang cukup bahagia dari peraih perak dan perunggu. Sedangkan atlet lainnya hanya bisa merana meratapi hasil yang tak sesuai harapan.

Apalagi untuk ukuran Indonesia, badminton berarti juara. Karena itulah ketika tidak ada medali emas yang didapat, hal itu berarti sama saja dengan kiamat.

Sakit karena nol medali emas makin terasa menyengat bila melihat cara pemain-pemain Indonesia tumbang di lapangan. Semua berguguran sebelum mencapai langkah terakhir menuju medali emas.

Bahkan empat dari enam wakil yang ada, sudah terkapar saat Olimpiade masih menjalani babak penyisihan. Catatan ini jelas menyedihkan.

Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva memang tergabung di grup neraka. Namun dari tiga pertandingan yang dimainkan, Apri/Fadia bermain dengan tidak nyaman. Kekompakan Apri/Fadia seolah hilang ditelan beban besar sebagai harapan.

Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memulai Olimpiade dengan baik. Mereka menang lawan Kim Won Ho/Jeong Na Eun. Namun mereka tak mampu melanjutkan jejak apik itu ke dua laga berikutnya.

Bahkan saat peluang lolos ke perempat final terbuka di depan mata pada laga terakhir, Rinov/Pitha justru tampil jauh dari level yang mereka tunjukkan di pertandingan pertama.

Situasi paling mengecewakan jelas ada pada Jonatan Christie dan Anthony Ginting. Keduanya sempat menghadirkan All Indonesian Final di All England.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

MoU antara PCA dengan IPB

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X