“Klan Ba’alawi melakukan segala kemampuan untuk mengkonsolidasikan posisi spiritual mereka. Mereka berpura-pura saleh dan takwa, dan mereka melakukan dengan segala apa yang mereka tahu dari tipudaya bagaimana membawa orang untuk menyucikan mereka, mencari berkah, dan bertawassul dengan mereka” (Al Bakri, Tarikh Hadramaut, 1/77).
Dibagian lain dari kitabnya Solah al Bakri mengatakan:
ولم يقنعوا بما نالوا من السلطة الروحية بل طمحت نفوسهم وأشرأبّت أعناقهم إلى اكثر من ذلك وطمحوا إلى الملك فلعبوا في السياسة أدوارا هامة
"Mereka tidak puas dengan otoritas spiritual yang telah mereka peroleh, lebih dari itu jiwa mereka bercita-cita dan leher mereka mendambakan lebih dari itu. Mereka bercita-cita menjadi raja, sehingga mereka bermain politik dalam beberapa peran-peran penting” (Tarkih hadramaut, 1/78).
Usaha pertama klan Ba’alwi untuk mendapatkan kedudukan politik dimulai pada tahun 1221 Hijriah. Sejarawan Karamah Mubarak Ba’mukmin dalam bukunya “Al Fikr wa Al Mujtama’” menyebutkan bahwa keluarga Ba’alwi pada tahun tersebut ingin merebut kekuasaan dari Klan Yafi’ dengan mendirikan dinasti Ba’alwi.
Usaha itu diimplementasikan dengan dikumpulkannya dana dari klan Ba’alwi dengan mengangkat Tahir Husain Ba’alwi sebagai pemimpin dengan gelar “Nasiruddin” dan menjadikan Tarim sebagai ibukota. Namun, gerakan makar itu dapat ditumpas (h. 200).
Usaha lainnya adalah apa yang dilakukan oleh seseorang yang bernama Ishak bin Umar bin Yahya di tahun 1221 Hijriah. Ia mengumpulkan uang atas nama agama kemudian ia memobilisasi orang-orang dari cafe-cafe dan bar-bar untuk melawan pemerintah yang sah dengan menyerang Mukalla.
Usahanya ini berhasil ditumpas oleh Gubernur Solah bin Muhammad al Kasadi al yafi’I. orang-orang yang dimobilisasinya itu kebanyakan tewas, namun ia melarikan diri dengan perahu (Solah al Bakri, Tarkih Hadramaut, 1/118).
Ketika klan Yafi’ menguasai Hadramaut, klan Al Katsiri terus berusaha merebut kekuasaan yang dulu dipegangnya. Klan Ba’alwi yang gagal merebut kekuasaan atas nama klannya, kini berusaha menguasai politik atas nama klan lain.
Mereka memainkan peran politik ganda: mereka mendukung Al Katsiri di suatu waktu, di waktu yang lain mereka menjalin hubungan juga dengan Klan Al-Yafi’.
Ketika Tarim dipimpin oleh Abdul Qawi bin Abdullah Garamah al Yafi’I, tokoh-tokoh Ba’alwi mendukung tokoh Al Katsiri yang bernama Abud bin Salim Al Katsiri untuk memberontak.
Tokoh-tokoh utama Ba’alwi yang mendukung Abud itu adalah Muhsin bin Alwi al Shafi Ba Alwi, Abdullah bin Umar bin Yahya dan Jafar bin Syekh Assegaf.
Walaupun mereka mendukung pemberontakan Abud al Katsiri kepada Yafi, tetapi mereka tetap sering sowan mendatangi istana Amir Tarim dari keluarga Yafi’ dan memperlihatkan persahabatan.
Sejarawan Solah al Bakri mengungkapkan bahwa Amir Tarim memuliakan mereka dengan semestinya tanpa menyadari bahwa yang sowan kepadanya itu adalah musuh dalam bentuk sahabat; serigala dalam rupa kambing (lihat Al Bakri, Tarikh Hadramaut, 1/ 118).
Usaha merebut kekuasaan yang selalu gagal tidak menjadikan keluarga Ba’alwi berhenti. Mereka memberikan bantuan kepada para pemberontak untuk memerangi pemerintah yang sah yang berasal dari klan Yafi.
Artikel Terkait
Imam Syafi’i
MK Perintahkan KPU yang Sembunyikan C-Hasil untuk Lakukan PSU di Dapil I Kabupaten Kepulauan Yapen
Haji dan Kesalehan Sosial
Waktu dan Keutamaan Puasa Arofah
AMX-10P Marine, Tank Baja Korps Marinir Indonesia
Ibnu Athaillah As-Sakandari
Kala Warga dan Pelajar Antusias Saksikan Pesawat TNI AU
Potret TNI Bantu Warga Papua Panen Sayur
Peluang dan Tantangan Pemuda pada Momentum Pilkada
Haul Syaikhona Maimoen Zubair yang ke-5