Ibnu Athaillah As-Sakandari

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 12 Juni 2024 | 08:00 WIB
Penjelasan ngaji hikam pasal 1 Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari.  (afi.unida.gontor.ac.id)
Penjelasan ngaji hikam pasal 1 Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari. (afi.unida.gontor.ac.id)

Oleh: KH Cholil Nafis

Seorang sufi yang ‘Arif billah dengan kata2 hikmahnya yang masyhur dalam karya terkenalnya kitab Al-Hikam.

Ibnu Athaillah merupakan seorang sufi terkemuka di dunia yang mempunyai nama lengkap Syekh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah As-Sakandari.

Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan wafat di Kairo pada 709 H/1309 M. Julukan As-Sakandari merujuk kota kelahirannya, Iskandariah.

Sejak kecil, Ibnu Athaillah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al Syadzili.

Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili.

tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Hikam adalah sebuah kitab yang diperuntukkan bagi para pejalan (sâlik), yang di dalamnya berisi panduan lanjut bagi setiap pejalan untuk menempuh perjalanan spiritual.

AlHikam berisi berbagai terminologi suluk yang ketat, yang merujuk pada berbagai istilah dalam AlQur'an. Kitab ini merupakan kumpulan mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spiritua.

Ungkapan Syaikh Ibn ‘Athaillah: Orang yang arif adalah orang yang tidak membanggakan amal ibadahnya. Orang yang bangga dengan amalnya kurang pengharapan kepada Allah, sehingga apa saja yang diperolehnya dianggap karena amal ibadahnya, bukan karena rahman dan rahimnya Allah.

Walhamdulillah berkesempatan ziarah makam Ibnu ‘Athaillah. Makam beliau berada di dalam masjid, tepatnya di sisi kiri depan arah kiblat.

Masjid Ibnu Athoillah dibangun belakangan, jauh setelah ada makam, yakni pada kurun waktu 1973 - 1978, oleh Syeikh Abdul Halim Mahmud, salah seorang Syeikh Al-Azhar. Masjidnya tidak terlalu besar namun cukup bersih dan nyaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X