Islamophobia: Fakta, Faktor dan Solusi - 02

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 10 Juni 2024 | 12:00 WIB
ilustrasi Islam rahmatan lil ‘alamin artinya apa? (pexels/ Konevi)
ilustrasi Islam rahmatan lil ‘alamin artinya apa? (pexels/ Konevi)

Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi

Pada bagian yang lalu disampaikan bahwa Islamophobia sesungguhnya bukan fenomena baru. Melihat Islamophobia sebagai fenomena baru dunia, apalagi sekedar dikaitkan dengan peristiwa tertentu, seperti apa yang dipropagandakan selama ini sebagai serangan terror ke US atau lebih dikenal dengan peristiwa 9/11 itu kurang akurat. Apalagi kalau sekedar dikaitkan dengan tampilnya politisi-politisi dukungan neo konservatif seperti Donald Trump.

Sesungguhnya Islamophobia adalah respon alami yang terjadi terhadap hadirnya Islam itu sendiri. Dan itu dalam sejarahnya akan selalu ada. Sebuah hukum alam atau lebih tepatnya “sunnatullah” jika ada cahaya pastinya akan ada kegelapan walau tidak selalu menampakkan diri. Tapi itulah hukum alam yang ada untuk keseimbangan dalam kehidupan alam semesta.

Lahirnya Islam (istilah historis, bukan agama) di semenanjung Arabia secara alami membangkitkan ketakutan, kebencian dan prilaku destruktif dari kekuatan yang ada pada masanya.

Saat itu ada dua kekuatan dunia. Roma di dunia bagian Barat (West). Dan Persia di dunia bagian Timur (East). Keduanya sangat terusik dan merasa terancam dengan kebangkitan kekuatan baru itu (Islam).

Secara domestik juga sesungguhnya fenomena inj bersifat alami. Dengan kehadiran Islam di Makkah para pembesar kota tua itu merasa terancam sehingga merespon dengan prilaku destruktif.

Pengikut Islam saat itu mendapat perlakuan kejam, termasuk Rasulullah SAW, yang kerap kali mengalami perlakuan yang tidak semestinya.

Kenyataan bahwa Islam pernah berkuasa di Dunia Barat (berpusat) di Andalusia sekitar 700-an tahun. Kejatuhan kekuasaan Islam direspon dengan respon kejam dengan inquisisi di bawah komando Ratu Isabel.

Ditambah lagi ekspansi Khilafah Utsmaniyah (Ottoman Empire) ke Eropa besar-besar. Kalau saja tidak tertahankan dan terkalahkan di peperangan Vienna yang terkenal itu, Eropa Barat keseluruhan pastinya akan dikuasai.

Semua hal di atas sekaligus menyimpulkan bahwa secara umum Islamophobia seringkali terjadi dengan faktor politik sebagai faktor dominan dan terutama.

Namun faktor politik (kekuasaan merasa terancam) itu bukanlah faktor tunggal. Ada beberapa faktor lain yang bisa didapati pada setiap masyarakat dan negara sesuai dengan keadaan spesifiknya.

Ada enam faktor utama yang ingin saya garis bawahi pada tulisan ini.

Satu, ketidak tahun (ignorance).

Kita semua tahu bahwa walaupun sekarang ini perhatian kepada agama mulai tumbuh dunia Barat, bahkan ada fenomena lebih berkembang dibandingkan di beberapa dunia Islam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X