Sebenarnya hingga pertengahan abad ke 20 agama, saya maksudkan semua agama, bukan hanya Islam, Tidak saja tidak menarik dan dianggap tidak perlu.
Agama justeru dipandang sebagai halangan kemajuan, bahkan racun kehidupan (life poison). Karenanya dunia Barat tidak saja tidak peduli. Justeru melahirkan konsep kehidupan “sekularisme” yang menutup semua pintu untuk agama memainkan peranan dalam kehidupan publik manusia.
Sikap dunia Barat terhadap Islam itu melahirkan “kebodohan” bahkan “kebencian” kepada Islam.
Kebodohan atau ketidak tahuan tentang agama, lebih khusus lagi kepada agama Islam menjadikan mereka di saat agama Islam nampak dan berkembang menjadi ketakutan.
Ketakutan yang berdasar kebodohan itulah sesungguhnya arti dari “Phobia”. Biasanya lebih dikenal dengan “irrational fear” (ketakutan yang tidak rasional).
Contoh yang ingin saya sampaikan kali ini adalah seorang Pendeta Kristen yang bernama Pastor Jones dari Florida. Pendeta ini lebih dikenal dengan “the burning Qur’an pastor” atau Pendeta pembakar Al-Qur’an.
Pendeta ini pernah ingin membakar Al-Qur’an karena asumsinya Al-Qur’an adalah sumber Syariah, hukum yang barbarik dan anti Amerika.
Setelah menjadi pendeta yang bangkrut, konon jamaahnya hanya sekitar 50-an orang, dia kemudian mengakui bahwa dia yang sangat anti Al-Qur’an itu tidak pernah sama sekali membaca Al-Qur’an.
Bahkan belum pernah sama sekali bertemu dan berkomunikasi dengan orang Islam. Dia adalah personifikasi Islamophobia (ketakutan dan kemarahan) yang disebabkan oleh ketidak tahuan tentang Islam.
Contoh lain Islamophobia yang pernah saya temukan langsung adalah ketika Komunitas Muslim Sheepshead Bay Brooklyn New York ingin mendirikan Masjid di sebuah daerah yang banyak Komunitas Yahudi.
Saya masih ingat, rumah yang akan dijadikan Masjid itu didemo oleh mereka yang anti Islam hampir setiap hari. Hal ini dijadikan kesempatan bagi beberapa politisi yang anti Islam untuk menjadi gandengan kepentingan.
Suatu hari diadakan demo oleh mereka yang anti proyek masjid. Lalu Komunitas Muslim mengadakan “counter rally” atau demo tandingan. Saya diundang hadir untuk orasi di demo tandingan Komunitas Muslim itu.
Sebelum gabung dengan komunitas Muslim, saya sengaja mendatangi pendemo anti Masjid (anti Islam) itu. Mereka mungkin tidak tahu kalau saya adalah Muslim. Karena wajah dan pakaian saya ketika itu tidak seperti apa yang mereka asumsikan sebagai Muslim.
Di antara pendemo anti Islam itu ada seseorang yang membawa spanduk dengan tulisan: “Shariah” yang dikelilingi gambar tetesan darah.
Melihat itu saya mendekatinya dan bertanya: “do you know what that word means?” (Tahukah anda apa arti kata itu?). Maksud saya tahukah dia arti kata syariah? Dia hanya kebingungan dan tidak menjawab. Saya kemudian tanya: “had you ever read Qur’an and had you met any Muslim?). Dia hanya mengangguk.
Artikel Terkait
Kunci Pahala Berlimpah: Memaksimalkan Amalan Terbaik di Sepuluh Hari Bulan Dzulhijjah
Fadilah Puasa 1-9 Bulan Dzulhijjah
'Rush Money' ala Muhammadiyah
Yuk Ikutan Festival Imigrasi 2024, Ini Syaratnya!
Super...Deden Nasihin Raih Doktor FISIP UNPAD, Kang Ace : Kader Golkar Selain Politisi Juga Teknokrat
Angkat Disertasi Kasus Kawin Kontrak di Cianjur, Deden Nasihin Raih Gelar Doktor FISIP UNPAD
Deden Nasihin Politisi yang Akademisi, Moncer di Karier Politik Jawa Barat dan Sukses Raih Doktor FISIP UNPAD
Doktor Deden Nasihin, Sosok Muda Cemerlang sebagai Politisi Golkar dan Sukses menjadi Akademisi FISIP UNPAD
PT LIB Gelar Pertemuan dengan Pemilik Klub Liga 1, Bahas Kompetisi 2024/2025
Muhammadiyah Gandeng Ormas Lintas Iman Perkuat Bidang Kesehatan