Sejarah mudik di Indonesia berakar kuat pada tradisi budaya dan nilai kekeluargaan masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
Kata mudik sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu “mulih dilik” yang artinya "pulang sebentar", lalu berkembang menjadi kebiasaan pulang kampung saat momen-momen besar, terutama Hari Raya Idulfitri.
Berikut ringkasan sejarah dan perkembangan mudik di Indonesia:
1. Akar Tradisi
Zaman kerajaan Jawa: Tradisi pulang kampung saat hari-hari besar keagamaan atau upacara adat sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram dan Majapahit. Masyarakat yang merantau akan pulang untuk ziarah kubur dan berkumpul bersama keluarga.
Nilai budaya ini erat dengan konsep "sungkeman" (meminta maaf dan restu) serta silaturahmi.
2. Masa Kolonial Belanda
Banyak orang Indonesia, khususnya Jawa, yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai buruh atau pegawai kolonial. Saat libur hari raya, mereka memanfaatkan waktu untuk pulang kampung.
Namun, karena transportasi masih terbatas, hanya kalangan tertentu yang bisa mudik.
3. Era Orde Baru (1970-an – 1990-an)
Urbanisasi besar-besaran terjadi, banyak warga desa pindah ke kota besar seperti Jakarta.
Mudik Lebaran mulai terlihat sebagai fenomena sosial yang besar. Pemerintah mulai mengatur arus mudik, terutama dengan penyediaan angkutan Lebaran.
Media juga mulai mempopulerkan istilah mudik secara nasional.
4. Era Modern (2000-an hingga sekarang)
Artikel Terkait
Menelisik Ketatanegaraan Perspektif Kebudayaan Sunda Parahiangan, Sebuah Kajian Simbol Astabrata, Tritangtu di Buana dan Kearifan Lokal
Mutiara Pagi: Tidak Ada yang Diam (Bagian 1811)
Dari "Petani Gabah", Menuju "Petani Beras"
Tadarus Ayat-Ayat Pendidikan
Transcontinental Countries: Negara yang Wilayah Geografisnya Berada di Dua Benua atau Lebih
Upah Rendah Pekerja Cianjur: Realita yang Masih Menghimpit
Mutiara Pagi: Mimpi (Bagian 1812)
Bagaimana Indonesia di Mata Orang Asing (Bedakan Negara dan Rakyat)?
Ijazah, Hal Remeh Tapi Berdampak Besar
Mengenal Muhammad Arif Nuryanta, Hakim Terpeleset Suap Rp60 Miliar