10. RUU TNI yang dikhawatirkan akan mengembalikan peran dwifungsi TNI menjadi puncak kegeramanan mahasiswa dan masyarakat sipil. Meski revisi yang dimaksud tidak mengarah kepada dwifungsi TNI, namun mahasiswa kadung tidak suka dan marah. Terlebih munculnya beberapa komponen anggaran belanja TNI yang menyebutkan pembelian celana dalam bagi anggota TNI.
Aparat seperti TNI-Polri menjadi warga kelas satu yang seluruh kebutuhan mereka dipenuhi negara. Kurang apa lagi? Namun praktiknya sering kali aparat ini justru menyusahkan rakyat. Bukankah anggaran negara untuk membiayai aparat tersebut berasal dari uang pajak rakyat? Namun mereka tidak berpihak kepada rakyat. Rakyat mahasiswa yang demo dibadapi dengan tank dan alat berat lainnya.
Rakyat dipentungi pakai tongkat atau disemprot dengan water canon, dipukul ditendang hingga dibawa dengan paksa ke markas aparat. Tanda-tanda otoritarian juga sudah terlihat sebelumnya pameran lukisan ditutup. Pentas teater digrendel. Lagu dan media kritis di intimidasi diteror. Semua rangkaian ini menjadi jelas bagaimana sikap rezim kepada rakyat.
Rakyat mahasiswa merasa sudah waktunya melawan. Selama ini mereka hanya diam dengan semua yang terjadi pada bangsa ini. Jika pemerintah bisa seenaknya berbuat kepada rakyat, maka rakyat pun bisa berlaku bersikap yang sama. Mungkin demikian pemikiran mereka. Karena bukan tanpa dasar, rakyat lah pemilik kedaulatan bangsa ini.
Artikel Terkait
Mereaktualisasi Tritangtu di Bumi: Menemukan Kembali Jati Diri Bangsa Sunda
Mutiara Pagi: Untaian Doa di Bulan Suci (Bagian 1786)
Ramadan, Bulan Penuh Berkah
Tulang Rusuk yang Hilang
Tips Meraih Lailatul Qadar
Sahur
Penutupan Sanlat Ramadhan DPK BKPRMI Kecamatan Takokak
Mutiara Pagi: Vibrasi Ramadan (Bagian 1787)
Sebuah Universitas Tua yang Kini Menjual Gelar
Mengenang Wafatnya Mbak Rara, Hafizah Di Luar Pesantren Tahfiz