Sekitar dua bulan lalu kami masih komunikasi. “I still owe you Ustadz”, katanya.
Beliau maksudkan masih berhutang mengunjungi kami di Kota New York. Hal yang sejak bertahun-tahun lalu telah beliau sampaikan. Ingin ke kota New York bersama keluarga. Apa daya Allah lebih sayang beliau dan beliau dipanggil segera membersamai kasih sayangNya.
“Inna lillahi wa inna ilai rajiun”.
Selamat jalan Bu Hajjah. Kita tidak jadi ketemu di New York. InsyaAllah semoga kita sekeluarga ketemu di SyurgaNya Allah. Al-Fatihah!
Kami tuliskan ini diiringi doa terbaik untuk almarhumah dari Masjidil Haram, Makkah.
Mekah, 4 Oktober 2024
*a friend and a brother in faith in New York.
Artikel Terkait
Humor Gus Dur: Antara Bicara dan Kerja Orang Indonesia
Laksanakan Misi, Flight Pesawat Tempur F 16 Berangkat dari Lanud Roesmin Nurjadin ke Jakarta
Mutiara Pagi: Bicara Boleh (Bagian 1631)
Netralitas ASN Hanya Sebuah Mitos di Era Kampanye
Dunia Pendidikan Perlu Kembali ke Ajaran Ki Hajar Dewantara, Pemerintah Tidak Serius Urusi Pendidikan
Syaiful Huda Ungkap Kemungkinan Kemendikbudristek Dipecah Jadi Tiga di Era Prabowo Subianto
Grand Desain Pembangunan Petani
Senyum Adalah Manifestasi Kebahagiaan Batin dan Tanda Ketaqwaan
Mutiara Pagi: Dalam Hidup Ini (Bagian: 1.632)
Nabi Musa AS Tidak Tahu Akan Membelah Laut, Yang Ia Yakini Adalah Allah Akan Menolongnya