Nabi Musa AS Tidak Tahu Akan Membelah Laut, Yang Ia Yakini Adalah Allah Akan Menolongnya

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 4 Oktober 2024 | 13:35 WIB
Ilustrasi Tongkat Nabi Musa  membelah laut (Foto: google image)
Ilustrasi Tongkat Nabi Musa membelah laut (Foto: google image)

Oleh: Rudi Ahmad Suryadi

Nabi Musa AS adalah salah satu nabi yang diberi tugas berat oleh Allah SWT untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan Firaun. Ketika Musa diangkat sebagai nabi, ia diberi perintah untuk menyampaikan pesan Allah kepada Firaun, seorang raja yang sombong dan kejam. Firaun menolak ajakan Nabi Musa dan malah menindas Bani Israil lebih keras lagi. Nabi Musa yakin bahwa Allah akan menolongnya dalam menghadapi tantangan yang berat ini, meskipun ia belum mengetahui bagaimana cara Allah akan memberikan pertolongan-Nya.

Saat Nabi Musa dan kaumnya akhirnya diperintahkan untuk meninggalkan Mesir, mereka berjalan menuju Laut Merah. Di saat yang sama, Firaun dan tentaranya mengejar mereka dengan maksud untuk menangkap dan menghancurkan mereka. Di depan mereka terbentang laut yang luas, dan di belakang mereka musuh semakin mendekat. Dalam situasi tersebut, Nabi Musa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi keyakinannya kepada Allah tidak pernah goyah. Ia tahu bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka binasa.

Ketika kaumnya mulai merasa ketakutan dan khawatir akan dikejar oleh tentara Firaun, mereka bertanya kepada Nabi Musa tentang nasib mereka. Mereka merasa seolah-olah terjebak di antara laut dan musuh yang ganas. Namun, dengan penuh keyakinan, Nabi Musa menenangkan mereka dan mengatakan, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62). Perkataan ini menunjukkan betapa besar keimanan Nabi Musa kepada pertolongan Allah.

Pada saat itulah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Nabi Musa, yang tidak pernah membayangkan akan terjadi keajaiban sebesar ini, dengan patuh mengikuti perintah Allah. Ketika tongkat itu dipukulkan, laut terbelah menjadi dua, membuka jalan kering di tengahnya. Nabi Musa dan kaumnya kemudian menyeberangi laut dengan aman, sementara tentara Firaun yang mengejar mereka tenggelam ketika laut kembali menyatu.

Keajaiban ini bukan karena Nabi Musa mengetahui rencana Allah dari awal, melainkan karena ia sepenuhnya percaya bahwa Allah akan menolongnya dengan cara yang tak terduga. Ini adalah pelajaran penting tentang keimanan yang total kepada Allah, bahkan ketika seseorang tidak mengetahui bagaimana atau kapan pertolongan itu akan datang. Nabi Musa hanya melakukan apa yang diperintahkan dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa di saat-saat paling genting dalam hidup, ketika semua tampak gelap dan tanpa harapan, Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik. Nabi Musa tidak tahu bahwa laut akan terbelah, tetapi keyakinannya kepada kuasa Allah membawanya pada jalan keluar yang tidak pernah ia bayangkan. Rencana Allah selalu jauh melampaui pemahaman manusia.
Dalam situasi yang sangat mendesak dan penuh ketidakpastian, sering kali manusia merasa panik atau putus asa. Namun, Nabi Musa menunjukkan contoh bahwa berpegang teguh pada keyakinan kepada Allah adalah kunci untuk menghadapi segala rintangan.

Dengan kepercayaan penuh bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya, kita bisa menghadapi apapun tanpa rasa takut.
Keajaiban ini juga menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang dapat diprediksi oleh akal manusia. Sebagai seorang nabi, Musa hanya perlu menjalankan perintah Allah, dan Allah yang akan menentukan jalan keluar terbaik. Ini mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu bersandar kepada Allah, terlepas dari situasi apapun.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Ayat ini memperkuat pesan yang ada dalam kisah Nabi Musa, bahwa dengan keyakinan dan takwa, Allah akan selalu menyediakan solusi, meskipun jalan keluar tersebut tidak terlihat di awal.

Kisah Nabi Musa membelah laut tidak hanya tentang keajaiban fisik, tetapi lebih dalam lagi tentang kekuatan iman. Keyakinan Nabi Musa kepada Allah adalah contoh paling kuat bahwa siapa saja yang berpegang teguh pada keimanan akan selalu menemukan pertolongan di saat yang tepat, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara pertolongan itu datang.

Wallahu A'lam

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB
X