Kebetulan Konjen RI ketika itu dekat dengan kami. Maka ketika saya meminta nama Marissa Haque untuk diundang beliau langsung menginstruksikan ke staf untuk memasukkan nama beliau ke list para tamu. Tentu saja Ibu Hajjah sangat bergembira dan hadir bersama saya di acara itu.
Di selah-selah acara itulah almarhumah mengenalkan diri ke suami Ibu Negawati, Taufik Kiemas. Bahwa beliau adalah pelajar di Ohio dan sudah hampir selesai. Bersamaan pula di Indonesia ketika itu akan ada pemilihan anggota legislatif (DPR/DPD).
Dengan serta merta Taufik Kiemas menawarkan ke almarhumah untuk maju sebagai calon DPR RI dari PDIP di daerah pemilihan Jawa Barat. Mba Icha tentu saja dengan senang menerima tawaran itu. Alhamdulillah kita ingat beliau pernah jadi anggota DPR RI dari PDIP.
Walaupun beliau sudah jadi anggota DPR kami tetap berkomunikasi dekat. Seringkali kami berdiskusi via online dalam berbagai permasalahan di tanah air. Entah Kenapa beliau sering meminta pandangan saya, bahkan dalam bidang yang saya pasti bukan ahlinya, seni.
Karena kedekatan almarhumah dengan Taufik Kiemas, saya waktu itu meminta untuk menghubungkan beliau dengan saya untuk menagih janjinya.
Kebetulan suami Presiden RI itu pernah berjanji untuk membantu pembangunan Masjid Indonesia di kota New York.
Namun janji itu tak kunjung dipenuhi. Akhirnya saya meminta ke Ibu Hajjah untuk mengingatkannya. “Lagi dikumpulkan”, kata beliau menyampaikan pesan Taufik Kiemas.
Komunikasi kami terus berlanjut. Bahkan dalam beberapa kesempatan beliau selalu meminta didoakan untuk bisa kembali berkunjung ke kota New York.
“Saya nginap di rumah pak Ustadz aja ya”, pinta beliau. “Iya Bu Hajjah dengan sangat senang. Sama Kang Ikang ya”, jawab saya.
Beberapa tahun lalu kami bersama Dompet Dhuafa ketika hadir di Jakarta diundang ke kediaman beliau yang asri dan nyaman. Kami disambut dengan ragam kuliner laut. Dan Ikang tidak lupa menghibur kami dengan lagu-lagu rock terbarunya. Bahkan beliau memberikan beberapa CD lagunya.
Dalam tahun-tahun selanjutnya beliau sering mengkomunikasikan keluhan-keluhan politiknya. Terkhusus lagi ketika ada sedikit masalah dengan pimpinan Partai pengusungnya ketika itu.
Entah kenapa saya termasuk tempat beliau menyampaikan keluh kesah itu. “Sabar Bu Hajjah. Partai hanya kendaraan. Dan kalau kendaraan ngadat, dan tidak bisa direpair lagi ganti saja”, kata saya.
Seingat saya beliau pernah ke PPP. Lalu pernah pernah maju sebagai Cawagub Banteng dari PKS. Namun semua belum selancar sebagaimana dicita-citakan. Hingga suatu ketika beliau mengirim pesan: “Ustadz, I am giving up. Politic is not my way”.
Saya lalu tanya: “then what is the next Bu Hajjah?”. Beliau jawab: “saya mau sekolah lagi Ustadz”.
Ternyata benar. Beliau menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi Ph.D, bahkan meraih gelar professor (associate).
Beliau adalah “mujahidah” yang tak mengenal kata “menyerah”. Bahkan di tengah terpaan badai sebagai figur publik beliau melangkah terus dengan hati lapang dan senyum dan tawanya yang khas.
Artikel Terkait
Humor Gus Dur: Antara Bicara dan Kerja Orang Indonesia
Laksanakan Misi, Flight Pesawat Tempur F 16 Berangkat dari Lanud Roesmin Nurjadin ke Jakarta
Mutiara Pagi: Bicara Boleh (Bagian 1631)
Netralitas ASN Hanya Sebuah Mitos di Era Kampanye
Dunia Pendidikan Perlu Kembali ke Ajaran Ki Hajar Dewantara, Pemerintah Tidak Serius Urusi Pendidikan
Syaiful Huda Ungkap Kemungkinan Kemendikbudristek Dipecah Jadi Tiga di Era Prabowo Subianto
Grand Desain Pembangunan Petani
Senyum Adalah Manifestasi Kebahagiaan Batin dan Tanda Ketaqwaan
Mutiara Pagi: Dalam Hidup Ini (Bagian: 1.632)
Nabi Musa AS Tidak Tahu Akan Membelah Laut, Yang Ia Yakini Adalah Allah Akan Menolongnya