JournalNusantara.com/ OPINI - Hati nurani adalah suara abadi dari kebenaran dan keadilan. Suara yang tidak dapat dibungkam saat keadilan dan kebenaran diinjak-injak. Tidak ada perdamaian tanpa keadilan dan kebenaran.
Apabila keadilan dan kebenaran lemah, maka kedamaian akan hilang. Dan prasangka sosial menjadi kuat. Saat prasangka sosial menjadi kuat maka kekuasaan apapun menjadi otoriter dan tiranik.
Baca Juga: UI Sikapi Kegentingan Perihal MK vs DPR
Keadilan dan kebenaran adalah jumlah dari semua kewajiban moral. Jika keduanya diabaikan maka yang lahir perilaku tidak bermoral. Disebutkan oleh Epicurus bahwa keadilan dan kebenaran adalah kontrak kemanfaatan, yang dibuat untuk mencegah orang melukai, menindas atau merugikan pelbagai kesepahaman sosial yang sudah diatur dalam undang-undang kehidupan dan kesepakatan bersama.
Kata Cicero, landasan keadilan dan kebenaran adalah itikad baik. Jika itikadnya selalu baik maka tidak akan ada penindasan, penipuan, pengkhianatan terhadap nilai keadilan dan kebenaran.
Baca Juga: Mutiara Pagi: Yang Maha Hidup (Bagian 1591)
Bahkan Aristoles menegaskan bahwa kebijakan yang akan membawa pada kedamaian hanya dapat diukur dengan tegaknya keadilan dan kebenaran. Tanpa ini, kehidupun menjadi hampa, serba tak pasti, penuh petaka konflik, dan saling menindas.
Damailah dengan selalu menghidupkan keadilan dan kebenaran dalam semesta kehidupan. Tajamkanlah hati nurani agar selalu tumbuh suara abadi yang dapat mendamaikan semesta.***
Artikel Terkait
Hidup Sejati dengan Hidayah-Nya
HUT RI ke-79, KAI Gelar Lomba Tarik Sarana Kereta Api
Mutiara Pagi: Yang Maha Mematikan (Bagian 1590)
Jelang PON ke-21, Atlet Jabar Ziarah ke Makam Cut Nyak Dien di Sumedang
Saatnya Akan Datang Pendusta dan Pendosa
Resmi, Kepala Badan yang Baru Dilantik
Hari Ini Guru Besar, Akademisi, Aktivis Pro Demokrasi, Civil Society, dan Aktivis '98 Aksi di Gedung MK
UI Sikapi Kegentingan Perihal MK vs DPR
Mutiara Pagi: Yang Maha Hidup (Bagian 1591)
Rudi Hartono Bangun Sosialisasi 4 Pilar, Tingkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Kehidupan Berbangsa