Hidup Sejati dengan Hidayah-Nya

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 21 Agustus 2024 | 05:59 WIB
Ilustrasi muslim yang sedang berdoa. (Freepik)
Ilustrasi muslim yang sedang berdoa. (Freepik)


Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi

Semua manusia di dunia ini merasa sedang menjalani kehidupannya. Dengan berbagai aktifitas dan kesenangan kemudahan (conveniences) hidup manusia terlena dengan zina nyamannya.

Seolah semua terjamin dan pasti (taken for granted) dengan kehidupannya. Padahal jika kita mencoba menyelami lebih dalam lagi tentang hakikat kehidupan akan didapati betapa banyak di antara manusia yang sedang hidup dalam kepura-puraan.

Hidup kepura-puraan itu bisa dimaknai sebagai menjalani kehidupan dengan ketidak jujuran. Manusia berpura-pura kaya dengan harta dan dunianya. Tapi secara hakikat merana dengan kemiskinan.

Manusia berpura-pura pintar. Tapi sejatinya sedang mengalami kebodohan yang menggelikan. Bahkan manusia berpura-pura beradab. Tapi menjalani kehidupan yang sangat biadab. Dan mereka tidak akan merasakan ketenangan hidup karena penuh dengan kebohongan (pada diri sendiri).

Hidup berpura-pura juga bisa dimaknai sebagai kehidupan yang tidak sejati. Merasa hidup tapi sejatinya mengalami kematian. Secara fisik dan material nampak hidup sehat dan kuat.

Bahkan merasa dan dipandang sukses oleh banyak kalangan. Namun sejatinya mereka adalah “mayat-mayat” yang bergerak berjalan ke sana kemari di atas bumi ini.

Realita inilah yang disampaikan oleh Allah dengan sebuah penegasan dalam Al-Quran: “dan tidaklah mereka yang hidup sama dengan mereka yang mati” (Al-Quran, Fatir: 22).

Islam menyampaikan bahwa kehidupan yang sesungguhnya tidak sekedar hidup bahkan sehat dan kuat secara fisik. Tapi kehidupan yang mencakup tiga aspek dasar dari kehidupan manusia. Secara fisik kuat dan sehat.

Secara akal tajam. Dan secara ruh (spiritual) sehat dan tajam. Ketika tiga aspek kehidupan ini hidup dan sehat maka itulah yang dikenal dalam Islam dengan “al-hayaah” (kehidupan). Dan manusia hanya akan menjadi manusia ketika ketiga hal ini hidup dan sehat.

Hidup hakiki seperti itulah yang diserukan Allah untuk dijaga. Sebagaimana firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman penuhi ajakan Allah dan RasulNya jika Dia (Allah/Rasulullah) mengajakmu kepada apa yang memberimu hidup”. (Al-Anfal: 24).

Yang menghidupkan itu Hidayah

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apa yang dimaksud dengan “apa yang memberimu hidup” pada ayat di atas? Para Ulama menyimpulkan bahwa “limaa yuhyiikim” atau yang memberi kehidupan yang dimaksud adalah “hidayah Allah dan RasulNya”. Keduanya terincikan dalam hadits: “saya tinggalkan dua hal untuk kalian yang jika kalian ikuti tidak akan tersesat selamanya. Kitab Allah dan Sunnahku”.

Urgensi hidayah bagi manusia sepenting hidupnya. Bahwa manusia sesungguhnya akan menyikapinya sebagaimana menyikapi hidupnya sendiri. Manusia akan melakukan segala hal untuk menyelamatkan hidupnya.

Bayangkan suatu ketika jika anda divonis kanker dengan level 4. Pastinya semua kepemilikan itu tiada lagi berguna. Yang berguna hanya yang dapat menyelamatkan hidup anda. Tapi pernahkah kita merasa bahwa segala hal dari hidup dunia kita ini tiada arti tanpa hidayah?

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Relasi Hubungan NU-PKB

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X