Santri saat ini, mungkin saja tidak terlampau identik dengan figur kesalehan, dimana ia dengan keyakinannya yang ketat mengikuti dan menjalankan tradisi keagamaanya. Tetapi, sepertinya malah tren “identitas politik” lebih penting dan lebih mahal dibanding nilai kesalehan yang dianggap absurd pada masa ini. Tak ayal, santi dan pesantrenpun kini turut menjadi bagian dari pelaku politik praktis aktif dalam setiap pemilu dan pilkada.
Pun demikian dengan kondisi CIanjur dalam kontek kesekarangan. Istilah santri dan pesantren yang identik dengan salahsatu ormas keagamaan terbesar di Republik ini, memiliki kecenderungan untuk berpolitik secara aktif dalam berbagai level dan dominasi kepentingan kekuasaan.
Sifat fatsun dan taat terhadap Kyai dan Ustad yang menjadi mursyid dalam mencari kesejatian hidup, menjadikan kaum sarungan relatif lebih mudah untuk dikendalikan, kuncinya adalah Kyai dan Ustad yang menjadi guru kehidupan bagi mereka. Apa yang menjadi titah Kyai ataupun Ustadz adalah fatwa yang harus dijalankan, jika tidak ia akan dianggap melakukan pembangkangan dan pembangkangan akan berakhir dengan ketidak berkahan, demikian dengan aktivitas politik kaum santri pastinya "sami'na wa atha'na" dengan para guru yang telah mendidiknya.
Pertanyaannya kini, mungkinkah pasangan Herman-Ibang selaku calon Petahana akan didukung oleh mayoritas kaum sarungan di Cianjur?. Jika dikaji lebih dalam, ada beberapa program-program mercusuar Herman saat menjadi Kepala Daerah yang beririsan langsung dengan eksistensi Santri dan Pesantrennya, diantaranya adalah gerakan membangun 1000 Kobong (tempat tinggal sekaligus tempat menimba ilmu para santri). Namun apakah program tersebut terealisasi secara sempurna, belum tentu juga karena ada banyak kritik-kritik pedas terkait program yang satu ini, dan Pemda hanya fokus pada pengadaan badan hukum dan bantuan-bantuan kecil untuk pengembangan saja, tidak pada infrastruktur.
Kalangan santri di Cianjur sepertinya memiliki pilihan lain terkait sosok yang dianggap "santri" dan dianggap pula mumpuni dari sisi keilmuan ataupun basis masa pemilih. Tentunya pilihannya bukan pada sosok Ibang yang konon katanya dianggap "Sekpri" Bupati dan jelas bukan Santri yang memiliki ceruk besar suara Islam sarungan di Pilkada Cianjur nanti. Pasangan Herman-Ibang yang merupakan produk politik Deklarasi Hotel Amen Cipanas dan didukung oleh 5 Parpol koalisi, harus bekerja ekstra untuk memenangkan Pilkada November 2024.
Munculnya sosok santri yang mumpuni, berkarakter, dan tidak terbebani oleh sejarah politik masa lalu di Pilkada Cianjur saat ini, akan menjadi lawan berat bagi pasangan Herman-Ibang pastinya. Sosok Ibang yang dipahami calon pemilih bukanlah Santri melainkan "Sekpri", bukanlah politisi murni, dan bukan pula pemilik saham parpol koalisi di Cianjur ini. Namun hal ini dapat pula sebaliknya, praktek Dramaturgi sebagaimana yang digagas oleh Goffman sedang dilakukan oleh masing-masing peserta kontestasi elektoral Pilkada Cianjur. Dalam politik praktis, termasuk di Pilkada Cianjur, selalu saja terdapat panggung depan dan panggung belakang yang dapat mengecoh siapa saja yang tidak cerdik dalam melakukan manuver politik. ***
Disarikan dari berbagai sumber.
Penulis adalah Akademisi dan Direktur Cianjur Institute. Kini bergiat di LTNU Jawa Barat dan Komnasdik Jawa Barat.
Artikel Terkait
Stamina Rohani dan Sikap Komunikasi
Situs Gunung Padang di Cianjur Lebih Tua dari Piramida Mesir
Revitalisasi HIMAT dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan: Respon Atas Tulisan Kang Ridwan Mubarak
Jangan Berdebat dengan Keledai
Al-Kisah: Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil
Senja Kala Hizbut Tahrir
Menakar Soliditas Parpol Koalisi dan Potensi Lahirnya Poros Ketiga di Pilkada Cianjur
KAI Ubah Pola Operasional Sejumlah Perjalanan Kereta Api Mulai 1 Juli 2024
Akhir Pendidikan, Taruna TK. IV AAU Berpamitan Kepada Wakil Gubernur DIY
Pilkada Cianjur Adu Gengsi Golkar Vs PDIP, Siapa Menang ?