HIMAT Hari Ini, Cianjur "Suram" Esok Hari

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Minggu, 30 Juni 2024 | 11:32 WIB
Ridwan Muabarak, Penulis adalah Ketua Umum PP-HIMAT 2005-2007 dan kini bergiat di FDK UIN SGD Bandung, Wakil Ketua Yayasan Pendidikan UNSUR Cianjur,  sekaligus sebagai Budak Angon di Pesantren Kyai Naga Sari.
Ridwan Muabarak, Penulis adalah Ketua Umum PP-HIMAT 2005-2007 dan kini bergiat di FDK UIN SGD Bandung, Wakil Ketua Yayasan Pendidikan UNSUR Cianjur, sekaligus sebagai Budak Angon di Pesantren Kyai Naga Sari.

HIMAT Hari Ini, Cianjur "Suram" Esok Hari
"Paradigma Kritis terhadap HIMAT yang Kian Menua dan Kehilangan Marwahnya sebagai Organisasi"


OPINI/ journalnusantara.com - Selamat menua Himpunan Mahasiswa Tjiandjoer (HIMAT) yang ke 62 di tahun ini. Barangkali itulah kalimat yang tepat untuk mengekpreseikan kegelisahan suasana kebatinan yang dirasakan penulis saat ini terkait dengan eksistensi HIMAT dalam kontek kesekarangan. Pasalnya, bertambahnya usia himpunan mahasiswa tertua di Tatar Santri ini belumlah berbanding lurus dengan ekspektasi banyak kader dan alumninya, hingar bingar perayaan milangkala HIMAT setiap tahunnya hanya sebatas euforia bias tanpa makna, dan sepi esensi.


HIMAT sejatinya adalah organisasi kemahasiswaan (kepemudaan) yang berkarakter paguyuban dan lebih bersifat primordialis. Ditarik pada locus manapun HIMAT tetaplah HIMAT dan tidak mungkin menjadi ormas apatah lagi partai politik. HIMAT idealnya menjadi sarana tepat tempat menempa calon-calon pemimpin masa depan yang dibekali dengan beragam kompetensi kepemimpinan.


Hal ini harus dipahami betul, karena HIMAT bukan sekedar tempat anjang sana sesama orang Cianjur saja, lebih dari itu HIMAT pun berfungsi sebagai kawah Candradimuka, tempat melakukan kaderisasi mahasiswa guna mematangkan sekaligus memantaskan kapasitas keilmuan, kebijaksanaan, pemikiran, tindakan maupun lisan dari para anggota dan alumninya. Akan tetapi, harapan tinggal hanya harapan saja, kenyataannya HIMAT masih sering dimanfaatkan untuk kepentingan pragmatis-transaksional oknum Pengurus, dan juga oknum alumninya, (berani jujur untuk CIanjur).


Alhasil, HIMAT mengalami stagnasi dari sisi kualitas gerakan kemahasiswaan karena telah keluar dan melenceng jauh dari khittahnya sebagai tempat mnggembleng dan melahirkan calon-calon pemimpin masa depan, minimal untuk skup lokal Cianjur saja. Ketika HIMAT keluar dari khittahnya sebagai organisasi perkaderan yang bernuansakan kedaerahan, posisi tawar HIMAT pun pudar dan mengalami degradasi di mata publik Cianjur. HIMAT kerapkali kiprahnya dipandang sebelah mata oleh organ gerakan ideologi yang lebih masif halnya HMI, GMNI, PMII, KAMMI dan lain sebagainya.


Hal ini sangat wajar terjadi karena HIMAT kehilangan ruhnya, HIMAT telah melenceng dari khittahnya sebagai organisasi Kader berbasis kedaerahan. Dalam beberapa kasus, banyak mereka yang mengaku alumnni HIMAT yang tidak paham hal-hal mendasar tentang sejarah Cianjur, tentang Sugih Mukti, tentang tokoh-tokoh besar Cianjur, dan tentang kearifan-kearifan lokal lainnya terkait Cianjur ini, dan ketika ini terjadi, HIMAT mengalami kecelakaan sejarah sekaligus kehilangan masa depannya.


Ikatan Keluarga Alumni (IKA HIMAT) hendaknya harus bertanggungjawab atas fenomena terdegradasinya HIMAT dalam menetukan arah masa depannya. Tidak sedikit pula, alumni yang kerap numpang tenar melalui HIMAT demi memuluskan akal bulusnya untuk kepentingan politik pribadi dan kelompoknya saja. HIMAT dijadikan tunggangan politik demi meraih simpatik publik tanpa memikirkan kondisi HIMAT hari ini atau nasibnya di masa depan akan seperti apa. Contoh nyata kegagalan alumni (IKA HIMAT) dalam memuliakan HIMAT saat ini adalah belum terwujudnya simbol Gerakan HIMAT dalam bentuk "Sekretariat Permanen HIMAT" baik di lokal Cianjur apalagi di Bandung (Jawa Barat).


Keberadaan Sekretariat HIMAT menjadi sangat penting, karena menyangkut Harkat dan Martabat serta Marwah HIMAT sebagai organisasi kemahasiswaan paling tua di kab. Cianjur. Sudah banyak alumni HIMAT yang telah dan tengah mereguk nikmatnya "Ber-HIMAT" dan menduduki jabatan-jabatan penting di semua sektor pemerintahan, baik Eksekutif, Legislatif maupun Legislatif, namun lacur keberpihakan "Ruruntuk" HIMAT ini belumlah nyata adanya. Buktinya hingga saat para alumni yang pernah menjadi Pejabat Publik/ Pejabat Politik di Cianjur gagal dalam mengawal aspirasi Pengurus HIMAT sejak dulu dalam hal pengadaan "Rumah Besar HIMAT" yang didanai oleh APBD.


Logikanya cukup sederhana, jangan dulu bermimpi muluk-muluk adanya Bupati yang lahir dari rahim organisasi HIMAT di Pilkada 2024 ini. Untuk mengawal anggaran APBD yang dapat membesarkan HIMAT saja mereka gagal total. Jangankan menjadi Bupati, Sekretariat saja masih ngontrak, jangankan mencipta Cianjur elok hari esok mengurusi HIMAT saja sebagai organisasi yang konsisten dengan AD/ART saja masih kelimpungan.


Pertanyaan besarnya, kemana saja alumni HIMAT yang pernah menjadi Pejabat Cianjur (baik eksekutif/ legislatif) selama ini?. Kontribusi nyata apa yang sudah disumbangkan untuk membesarkan HIMAT selama ini ?. Betulkah saudara masih berbangga hati mengaku sebagai IKA HIMAT ataukah hanya sebatas kepentingan politik sesat sesaat saja?. Sekian banyak pertanyaan mewujud menjadi rangkaian kegelisahan pastinya. HIMAT hari ini terkesan menjadi "Sapi Perah" kepentingan oknum-oknum yang krisis eksistensi dan tidak mampu membeli Panggung Politik.


Andaikata benar apa yang menjadi kegelisahan tersebut, terlalu arogan dan sombong ketika kita dengan lantangnya menyatakan bahwa "HIMAT hari ini Cianjur hari esok", faktanya Cianjur tetap tidak menjadi lebih baik dalam beragam hal, terlebih capaian Indek Pembangunan Manusia (IPM) Cianjur masih yang terburuk di Jawa Barat. Tiga indikator IPM baik pendidikan, kesehatan maupun daya beli yang menjadi barometer sehatnya suatu masyarakat masih di bawah rata-rata dan ini sudah berjalan lebih dari 15 tahun terakhir. Dengan bahasa lain tegas penulis menyatakan, jika ingin melihat orang yang tidak terdidik (bodoh) di Cianjur lah tempatnya, jika ingin melihat orang yang tidak sehat (sakit) di Cianjur lah tempatnya dan jika anda ingin tahu kondisi orang yang tidak kuat ekonominya (miskin) di Cianjur pula tempatnya.


HIMAT dan IKA nya belum berkontribusi nyata untuk perbaikan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal di Cianjur ini. Kita masih terjebak dengan ego-ego personal yang membodohkan HIMAT itu sendiri baik pribadi maupun organisasi. Belum ada satu gerakan terstruktur, masif dan sistemik dari HIMAt dan IKA nya yang fenomenal dan monumental, yang ada hanyalah kegiatan-kegiatan prosedural-seremonial yang tidak mencerdaskan.

Kita harus jujur mengakui, jangan-jangan Cianjur terpuruk selama ini, karena HIMAT dan IKA nya tidak becus atau bahkan tidak serius mengurusi Cianjur. Kita hanya berpura-pura bangga ber-HIMAT, kita hanya memanfaatkan HIMAT hanya untuk kepentingan politik sesat dan sesaat saja. Jika demikian, tegas penulis katakan "HIMAT Hari ini, Cianjur Suram Esok Hari !". ***

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Bisik dalam Gelombang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X