Oleh: Zawawi Imron
Seorang sufi modern mau makan dengan menu nasi dengan lauk kerupuk, kecap dan lombok.
Ia tahu sajian ini di bawah garis kesederhanaan.
Tapi ia bayangkan kerja petani yang menanam padi, yang berasnya kini berupa nasi, ia bayang pembuat kerupuk dan para pekerja yang keringatnya jadi bumbu kecap.
Terimakasih untuk mereka, lalu doa untuk mereka yang berjasa semoga ia kelak bertemu mereka di sorga.
Lalu, makanan apa adanya itu terasa nikmat tak kalah dengan sajian mewah di pesta-pesta.
Kecerdasan jiwa seperti ini membuat hatinya bergetar mengucap syukur Alhamdulillah.
Kemudian ia bayangkan saudara sebangsa yang tinggal di kaki gunung, di tepi sawah, yang jadi kuli dan yang tinggal di kota raya yang semua ingin mengharumkan Indonesia.
Kemudian kepada Tuhan ia berbisik, "Ya, Allah, aku sudah bekerja keras, takdirmu kuterima dengan lapang dada.
Ada yang ingin kubisikkan padamu, di akhirat nanti, selain aku menjadi kekasihmu, aku ingin tetap manjadi orang Indonesia.
Amin!
Artikel Terkait
Yonif 5 Marinir Gelar Embarkasi Personel dan Material Satgasmar Ambalat XXX
Renovasi Rumput Stadion GBK Dimulai, Bisa Dipakai Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Dunia?
Penampakan Purwarupa, Kereta Cepat Merah Putih Milik Indonesia
Daniel Klein, Calon Kiper Timnas Indonesia Selanjutnya?
Waspada Namimah
Belajar Public Speaking Kepada Nabi dalam Kitab Syamail Muhammadiyah
AI Pengoreksi Bacaan Quran
Isu Nasab Jalan di Tempat
Memaknai Haji, Kurban dan Hijrah
Keimigrasian Digital di Bandara dan Pelabuhan Utama Telah Pulih