JournalNusantara.com - Meski langit akan runtuh, keadilan haruslah ditegakkan. Demikian dengan pula dengan rasa keadilan yang kini tengah diperjuangkan oleh Pegi Setiawan alias Perong, sosok yang disangkakan oleh Polisi selaku pembunuh Vina dan Ekky Cirebon yang sedang viral.
Namun benarkah Pegi Setiawan ini sebagai pelaku pembunuhannya ? apakah tidak terlalu dipaksakan? karena menurut beberapa pihak ada banyak kejanggalan atas penetapan Pegi Setiawan si Kuli Bangunan untuk dijadikan tersangka.
Hal ini seperti dikemukakan dalam sebuah postingan di linimasa Twitter melalui akun @creepylogy_ dengan narasi "–MIMPI KEADILAN PEGI SETIAWAN– Mimpi Pegi tidak neko-neko. Ia ingin keluarganya bisa makan, adik-adiknya bisa terdidik. Karenanya ia memilih berhenti sekolah lalu bekerja. 10 tahun kemudian angan sederhana itu terancam musnah. Ia tiba-tiba dijadikan tersangka pelaku pembunuhan berencana di TKP yang tidak ia hadiri.
Mulanya saya menganggap ini semacam novel fiksi. Namun ketika gaungnya terdengar makin keras, saya merasa terpanggil untuk untuk menelusuri kasus ini lebih dekat. Kenyataan kemudian, ini lebih mirip sebuah tragedi yang menyesakkan. Karenanya saya ingin menulis sebuah catatan untuk Pegi Setiawan.
Beberapa waktu lalu saya bersama seorang rekan berangkat dari Jakarta dan tiba di tujuan, Kavling Simaja, Desa Kepongpongan, Cirebon pukul 15.30.
Di tengah-tengah kebun kosong itu terdapat sebuah rumah cat hijau yang terkucil. Seorang perempuan bernama Kartini menerima kedatangan saya. Dia adalah ibunda Pegi Setiawan. Lalu Kartini bercerita.
Pegi merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Umurnya 27 tahun, pekerjaan buruh bangunan. Karirnya dimulai belasan tahun silam dengan kerja serabutan. Sebelum tamat SD, ayahnya, Saprudin meninggalkan ibunya ke Bandung.
Pegi pun langsung sadar kalau dirinya harus ikut memikul beban keluarga. Untuk itu ia mengambil jalan paling realistis. Ia mendaftar di SMP Terbuka. Alasannya, ia bisa masuk sekolah hanya saat ujian sehingga ada banyak waktu untuk bekerja.
Kartini sendiri sejak 2014 sampai sekarang bekerja sebagai ART di rumah Sugianti Iriani, seorang pengacara. 10 tahun tentu bukan waktu yang singkat, dan itu cukup menggambarkan adanya hubungan baik di antara keduanya.
Terkadang juga majikan Kartini menawarkan obyekan untuk putranya, Pegi, misalnya mengecat rumah. Dari situ Pegi mulai mencari peluang lain, hingga ia diajak oleh ayahnya, Saprudin, untuk ikut mengerjakan proyek di Bandung mulai tahun 2016.
Pemuda yang cinta sepenuh hati pada Persija dan cuma setengah hati pada Manchester United itu beberapa kali ikut proyekan di Bandung pada 2016, antara lain di bulan Juli sebelum pulang ke Cirebon pada awal Agustus. Pekerjaannya mula-mula menjadi kenek bangunan. Upahnya Rp 80 ribu sehari.
Kemudian ia kembali berangkat ke Bandung pada 12 Agustus 2016. Ia bekerja di daerah Rancamanyar dan tinggal di sebuah mess bedeng bersama tiga buruh lainnya, yaitu Suparman yang notabene pamannya, Suharsono, dan Ibnu.
Sabtu, 27 Agustus, Pegi dan Ibnu mengantar Suharsono ke Terminal Leuwipanjang karena Suharsono ingin pulang ke Cirebon. Setelah mengantar rekannya, kedua pemuda itu mampir membeli makanan lalu kembali ke mess.
Artikel Terkait
Begal Payudara Wanita Saat Joging, Dikejar Korban Langsung Masuk Kantor Polisi !
Saat Tawuran Terjatuh, Seorang Remaja Jadi Bulan-bulanan Warga di Pekalongan !
Berutang Demi Membeli Hewan Qurban, Apa Hukumnya ?
Gaji Karyawan Swasta Dipotong Perbulan demi TAPERA, yang Sudah Miliki Rumah Juga Dipotong, Kok Bisa ?
Prabowo Bentuk Gugus Tugas Sinkronisasi, Alasannya Apa Ya ?
Memenangkan Pemilu Presiden Lima Kali Berturut-turut
Wisuda Alfiyah Ibnu Malik
Sahabat Dianiaya, Nabi SAW Tidak Selalu Kirim Pasukan
PT KAI Perkenalkan Kemajuan Perkeretaapian Indonesia di Thailand
Ordo Kuil Matahari, Gerakan Keagamaan dari Eropa