Memperingati 100 Tahun Komite Hijaz

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 11 Juni 2025 | 10:00 WIB
Gus Yahya dalam Satu Abad NU membuka pameran dan dokumentasi Komite Hijaz (Instagram/TVNU ID)
Gus Yahya dalam Satu Abad NU membuka pameran dan dokumentasi Komite Hijaz (Instagram/TVNU ID)

(Kemudian menerima balasan dari Tuan Raja bahwa utusan tersebut diminta menghadap kepada Tuan Raja pada hari Kamis, 20 Dzulqa’dah, sekitar pukul 14.00 siang, bertempat di rumah pesanggrahan Bait Nashif atas nama pribadi utusan tersebut).

Kedua utusan Nahdlatul Ulama tersebut akhirnya berhasil bertemu dengan Raja Abdul Aziz al-Saud pada waktu dan tempat yang telah disepakati. Pertemuan penting dan bersejarah antara utusan Nahdlatul Ulama dan Raja Abdul Aziz al-Saud berlangsung tidak kurang dari satu jam. Dalam pertemuan itu, keduanya menyampaikan surat mandat dari Nahdlatul Ulama, sekaligus mengemukakan lima permohonan dan tuntutan atas nama muslim Ahlussunah wal Jamaah di Nusantara. Pihak Raja Abdul Aziz menerima dengan baik kedua utusan Nahdlatul Ulama tersebut, serta menerima surat yang disampaikan. Pada pertemuan tersebut, pihak Raja Abdul Aziz didampingi oleh tiga penasihat, satu menteri, dan satu sekretarisnya. Sayangnya, nama-nama pendamping raja tidak disebutkan. Tercatat dalam dokumen tersebut:

"لاجڠ سيوس کدادوسن سوهان. توان راجا هاڠݢين ايڤون حورمة کليان چکاڤ بوتن کيراڠ سنوڠݢال ڤونڤا2 داڠوني سوهان بوتن کيراڠ سکيڠ سنوڠݢال جم کڠ کليان ديڤون حاضري دينيڠ تيݢا مستشار ايڤون لن سنوڠݢال وزير ايڤون لن سنوڠݢال سيکرتاريس ايڤون. لاجڠ کاليه اوتوسن واهو ڠاتوراکن سرة مندة داتڠ توان راجا"

(Kemudian terlaksana pertemuan. Tuan Raja sangat menghormati dengan cukup, tidak kurang sedikit pun. Lamanya pertemuan tidak kurang dari satu jam yang dihadiri oleh tiga penasihatnya, satu menterinya, dan satu sekretarisnya. Kemudian kedua utusan tersebut menyerahkan surat mandat kepada Tuan Raja).

Pertemuan tersebut tampaknya berjalan lancar. Misi diplomasi internasional Nahdlatul Ulama yang dimandatkan melalui Komite Hijaz berhasil. Sang Raja menyatakan akan mengindahkan permintaan dan tuntutan yang diajukan oleh Nahdlatul Ulama. Sang Raja juga meminta untuk diadakan pertemuan lagi setelah masa Wukuf Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah mendatang. Dalam pertemuan lanjutan itu, direncanakan akan diundang pula para ulama asal negeri Jawi (Nusantara) yang bermukim di kota suci Makkah.

Setelah selesai pertemuan siang itu dengan pihak Raja Abdul Aziz al-Saud di Bait Nashif di Jeddah, kedua utusan Nahdlatul Ulama tersebut kemudian pamit dan bertolak menuju kota Madinah, untuk menziarahi makam Kanjeng Nabi Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, dan ulama besar dunia Islam lainnya yang dimakamkan di kompleks pemakaman Baqi’. Selain itu, keduanya juga menziarahi tempat-tempat bersejarah di sekitar Madinah, seperti Qiblatain, Quba, Uhud, dan lain-lain.

Keberangkatan dua utusan Nahdlatul Ulama dari Jeddah ke Madinah tercatat pada hari Sabtu, 22 Dzulqa’dah 1346 Hijriah, dan baru tiba di kota tujuan dua hari kemudian, yaitu pada Senin, 24 Dzulqa’dah 1346 Hijriah. Mereka berada di Madinah tidak lebih dari satu minggu.

Pada hari Selasa, 2 Dzulhijjah 1346 Hijriah (22 Mei 1928), sekitar pukul 07.00 pagi, kedua utusan Nahdlatul Ulama tersebut tiba di kota suci Makkah. Kedatangan mereka disambut dengan antusias oleh orang-orang Jawi (Nusantara) yang berada di kota suci itu, baik yang bermukim di sana maupun yang sedang menunaikan ibadah haji pada tahun tersebut. Di Makkah, keduanya bermukim di distrik al-Syamiyyah, dekat kawasan Bab al-Quthbi.

Keesokan harinya, yaitu pada Rabu, 3 Dzulhijjah 1346 Hijriah (23 Mei 1928), K.H. Abdul Wahhab Chasbullah hendak menggelar pertemuan dengan para ulama Jawi (Nusantara) yang mengajar di Masjidil Haram dan institusi pendidikan keislaman lainnya di kota suci itu. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk konsolidasi para ulama Nusantara di Makkah guna menjaga dan melestarikan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah. Pertemuan-pertemuan kecil secara parsial telah dilakukan dengan sejumlah ulama Nusantara di Makkah, dan para ulama tersebut menyetujui serta mendukung misi Komite Hijaz. Sayangnya, pertemuan antara utusan Nahdlatul Ulama dengan para ulama Nusantara yang mengajar di Makkah dalam skala yang lebih masif dan besar sebagaimana direncanakan ternyata batal. Alasannya: kekhawatiran akan timbulnya fitnah yang justru dapat merugikan misi besar Komite Hijaz itu sendiri. Tercatat dalam dokumen tersebut:

"واهو اوتوسان بادي ڠاونتناکن ڤرکمڤالن انتاويس ڤارا کياهي2 بڠسا جاوي کڠ سامي مقيم اڠ مکة. ڤرلو ڠرمباک سدايا ڤرکاويس کڠ باکل کاسووناکن داتڠ راجا. لاجڠ ڤارا کياهي سدايا واهو سامي موفقة، هاناڠيڠ کتيڠال سامي امرات هاڠݢيني بادي داتڠي کواتوس اڠ ويڠکيڠ وونتن فتنة. سکيڠ ڤونيکا لاجڠ بوتن سيوس ڠاوونتناکن ڤرکمڤالن"

(Utusan tersebut hendak mengadakan perkumpulan antara para kiai-kiai bangsa Jawi yang bermukim di Makkah. Perlu membicarakan semua perkara yang akan dimohonkan kepada Raja. Kemudian para kiai semua menyetujui. Namun terlihat mereka keberatan jika akan datang, khawatir di kemudian hari akan ada fitnah. Oleh karena itu, perkumpulan tidak jadi diadakan).

Pada tahun 1346 H/1928 M, di antara ulama asal Nusantara yang masih hidup dan tercatat mengajar di lingkungan Masjidil Haram antara lain adalah Syekh Mukhtar Atharid Bogor (w. 1930), Syekh Hasan bin Abdul Syakur Surabaya (w. 1934), Syekh Nur Patani (w. 1943), Syekh Baqir Jogjakarta (w. 1944), Syekh Djanan Taib Minangkabau (w. 1946), Syekh Ahyad bin Idris Bogor (w. 1952), Syekh Abdul Muhith bin Ya’qub Siwalanpanji (w. 1964), Syekh Abdul Qadir Mandailing (w. 1965), dan lain-lain.

Petang hari berikutnya, yaitu pada Kamis, 4 Dzulhijjah 1346 H (24 Mei 1928), kedua utusan Nahdlatul Ulama tersebut kembali diundang oleh Raja Abdul Aziz al-Saud. Kali ini diundang untuk turut serta menghadiri jamuan makan malam di Bait al-Mu’tamar yang terletak di distrik Jiyad, Makkah. Dalam pertemuan tersebut, terdapat pula sejumlah ulama Jawa lainnya yang turut hadir, antara lain K.H. R. Hambali Kudus (adik K.H. R. Asnawi Kudus) dan K.H. Ahmad Qusyairi bin Shiddiq Pasuruan (kakak K.H. Ahmad Shiddiq, Rais Aam PBNU; pengarang kitab Tanwîr al-Hijâ fî Manzhûmah Safînah al-Najâ, yang kemudian disyarah oleh grand-mufti mazhab Maliki di Makkah Sayyid Muhammad Ali bin Husain al-Maliki al-Makki).

Bersambung ….

Jeddah–Jakarta, 13 Dzulhijjah 1446 Hijriah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB
X