Jasad Telah Pergi Namun Jejak Tak Pernah Hilang

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 10 Januari 2025 | 13:00 WIB
ilustrasi: Pergi (Pixabay/Pexels )
ilustrasi: Pergi (Pixabay/Pexels )

Kita semua adalah musafir di dunia ini. Tidak ada yang akan abadi, dan setiap kita akan pulang kepada Sang Khalik. Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali Imran: 133)

Kematian mengajarkan kita untuk tidak menunda-nunda kebaikan. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai kita menyesal saat maut datang menjemput, sementara kita belum mempersiapkan apa-apa.

Karena itu, Kehidupan ini seperti perjalanan singkat di atas jembatan yang sempit. Kita tidak tahu kapan kita akan sampai di ujungnya, tetapi kita tahu bahwa setiap langkah yang kita ambil mendekatkan kita kepada akhir perjalanan. Mari kita isi langkah-langkah itu dengan kebaikan, senyuman, dan manfaat bagi sesama, agar saat waktu kita tiba, kita bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang, seperti Dr. Usman Jasad yang telah memberikan banyak pelajaran melalui hidupnya.

*Saat Masih Ada Kesempatan*

Betapa besar karunia Allah saat ini, ketika kita masih mampu memandikan tubuh kita sendiri, sebelum tiba waktunya tubuh ini dimandikan oleh tangan-tangan lain yang tak kuasa menolak takdir. Kita masih diberi kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju masjid, sebelum tubuh ini digotong oleh orang-orang yang mengantar kita ke rumah abadi. Kita masih memiliki waktu untuk berdiri di belakang imam, melafalkan takbir bersama jamaah, sebelum tubuh kita terbujur di depan imam untuk dishalatkan. Kita masih diberi kemampuan membaca Al-Qur'an dengan hati yang penuh, sebelum ayat-ayat itu dibacakan untuk mengiringi peristirahatan terakhir kita. Kita masih bisa menziarahi kuburan, mengingatkan diri akan kematian, sebelum saatnya kita menjadi bagian dari mereka yang diziarahi.

*Mengapa kita lalai?*

Setiap detik adalah nikmat yang terlalu sering kita abaikan. Kita sibuk dengan dunia, lupa bahwa detik-detik ini adalah pinjaman yang akan habis. Rasulullah SAW. bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(HR. Al-Hakim, no. 7846)

Setiap nafas adalah pemberian yang takkan kembali. Namun, betapa sering kita mengisi hari dengan kelalaian, seakan waktu adalah milik kita selamanya. Kita lupa bahwa hari ini adalah kesempatan yang mungkin tak datang lagi esok.

Kelemahan Segala yang Kuat
Besinya kuat, tetapi api mampu meleburkannya. Api itu kuat, tetapi air dengan tenangnya mampu memadamkannya. Air itu kuat, tetapi awan dengan lembut mampu menyerapnya. Awan itu perkasa, tetapi angin yang tak terlihat mampu menolaknya. Angin itu kuat, tetapi bukit yang kokoh mampu menahannya. Bukit itu megah, tetapi manusia dengan akal dan kekuatan mampu meruntuhkannya. Manusia itu terlihat perkasa, tetapi nafsu sering kali menundukkannya. Namun, sebesar apapun kekuatan nafsu, iman mampu mengalahkannya.

Dan jika iman telah tegak, tidak ada yang mampu meruntuhkannya. Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS. Ibrahim: 27)

Iman adalah benteng yang melindungi dari godaan dunia. Ia adalah pelita dalam gelap, tali yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Namun, iman ini bukanlah sesuatu yang datang tanpa usaha. Ia harus dipupuk dengan dzikir, dipertahankan dengan ibadah, dan dikuatkan dengan kesabaran.

*Mengapa Menunggu Esok?*

Mengapa menunggu esok untuk bertaubat, padahal kematian mungkin mengetuk pintu malam ini? Mengapa menunggu kesempatan yang lain, padahal Allah telah memberikan waktu hari ini? Umar bin Khattab r.a. pernah berkata:
وَاعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok.”

Hari ini, kita masih bisa memilih. Kita masih bisa mengubah arah hidup, meninggalkan jejak kebaikan yang abadi. Jangan biarkan kelalaian merampas peluang kita. Jangan biarkan penyesalan menjadi satu-satunya teman di saat terakhir.

Sebuah Ajakan untuk Merenung
Setiap detik adalah kesempatan. Setiap hari adalah anugerah. Jangan sia-siakan hidup yang tersisa dengan kelalaian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB

Makan Malam dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Rabu, 1 April 2026 | 21:13 WIB
X