Kepergian Dr. H. Usman Jasad menjadi pengingat yang dalam bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan singkat menuju keabadian.
Dengan segala kebaikan yang beliau tebarkan, senyum yang selalu menyapa, dan kontribusi besar dalam membangun umat, kematiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi semua orang yang mengenalnya. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Ankabut: 57)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Sebanyak apapun harta, sebaik apapun kesehatan, dan setinggi apapun jabatan, tidak ada satu pun yang dapat menghindar dari ketetapan ini. Kematian adalah pintu yang akan dilalui oleh setiap makhluk menuju kehidupan yang kekal.
*Kematian Sebagai Perjalanan Menuju Allah*
Rasulullah SAW. bersabda:
اَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yaitu kematian).”
(HR. Tirmidzi, no. 2307)
Mengingat kematian bukanlah untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat agar setiap detik kehidupan diisi dengan amal kebaikan. Dr. Usman Jasad adalah contoh nyata bahwa hidup yang singkat dapat memberikan manfaat yang luas.
Beliau telah mengisi hari-harinya dengan kebaikan, senyum yang tulus, dan bantuan yang tidak pandang bulu. Kepergiannya yang tiba-tiba menjadi pelajaran bahwa kita pun harus selalu bersiap, karena maut tidak pernah memberi tanda atau peringatan.
*Peringatan dari Para Sahabat dan Ulama*
Umar bin Khattab r.a. pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنَ عَلَيْكُمْ
“Hisablah (evaluasilah) dirimu sebelum dirimu dihisab (oleh Allah). Timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang (pada hari kiamat).”
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, “Mengingat kematian adalah cambuk bagi jiwa, yang mengembalikan hati kepada Allah dan menjauhkannya dari cinta dunia.” Maka, kepergian seseorang yang begitu mulia seperti Dr. Usman Jasad bukan hanya duka, tetapi juga momen untuk mengintrospeksi diri, apakah kita telah mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang ini?
*Ajakan untuk Meningkatkan Kesadaran*
Kematian tidaklah memilah. Ia datang kepada yang tua dan muda, yang sakit maupun sehat, yang miskin maupun kaya.
Dalam kepergian beliau, kita belajar bahwa persiapan terbaik adalah amal kebaikan yang tulus. Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim, no. 1631)
Kepergian Dr.H. Usman Jasad adalah salah satu bukti bahwa amal yang beliau tinggalkan menjadi warisan yang tidak akan pernah hilang. Setiap orang yang terbantu oleh kebaikannya, setiap ilmu yang diajarkan, dan setiap senyum yang diberikan adalah saksi dari keindahan hidup yang penuh manfaat.
*Pelajaran dari Kepergian*
Artikel Terkait
Investasi Terbesar dan Warisan Tak Ternilai yang Mengguncang Keabadian!
Penyair "Celurit Emas": Menggugat Ketidakadilan Melalui Puisi
Mahasiswi STISNU Cianjur Belajar Dasar-Dasar Kepenulisan Bersama Jurnalis
Duet Fadli Zon dan Sudaryono
Mutiara Pagi: Saksi Hidup (Bagian 1736)
Khidmat dan Berkah: Haul Masyayikh dan Isra Mi'raj Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafy
Cianjur Selatan: Potensi dan Tantangan
Menyulam Doa di Hari Spesial Vani Zakiyah
Mutiara Pagi: Kekuasaan (Bagian 1737)
Harmoni Tawasul dan Kepedulian: Mapala Cianjur Bersatu untuk Menebar Kebaikan