Belajar dari Umar bin Abdul Azis
Ia cermin kepemimpinan
Yang mempimpin dengan hati
Dengan jubah kederhanaan
Meski gemerlap dunia mengelilingi
Ia sosok yang mengagumkan
Bukan karena kekuasaan
Tapi rasa hormat dan keadilan
Kepada siapa pun tanpa ada perbedaan
Setiap kebijakannya
Adalah mentari di pagi hari
Setiap keputusannya
Adalah rembulan di malam hari
Menghidupkan cahaya keadilan
Dalam jiwa yang merindukan kebenaran
Tidak terbuai kemewahan dunia
Meski singgasana dalam genggamannya
Ia selalu mengajarkan
Kekuasaan bukan simbol kemegahan
Ia pemimpin yang bijaksana
Tak hanya mengukir nama di atas batu
Melainkan benih kebaikan di dalam dada
Yang akan dikenang di sepanjang waktu
Malang, 10 Januari 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Sejarah Stasiun Arjawinangun
Berdandan Juga Harus Jujur
Investasi Terbesar dan Warisan Tak Ternilai yang Mengguncang Keabadian!
Penyair "Celurit Emas": Menggugat Ketidakadilan Melalui Puisi
Mahasiswi STISNU Cianjur Belajar Dasar-Dasar Kepenulisan Bersama Jurnalis
Duet Fadli Zon dan Sudaryono
Mutiara Pagi: Saksi Hidup (Bagian 1736)
Khidmat dan Berkah: Haul Masyayikh dan Isra Mi'raj Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafy
Cianjur Selatan: Potensi dan Tantangan
Menyulam Doa di Hari Spesial Vani Zakiyah