Menelisik Ketatanegaraan Perspektif Kebudayaan Sunda Parahiangan, Sebuah Kajian Simbol Astabrata, Tritangtu di Buana dan Kearifan Lokal

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Senin, 14 April 2025 | 21:22 WIB
Foto : Hj. Dea Mardiyanti, SH., M.H., CR., BC, Penulis adalah praktisi dan akademisi hukum adat Sunda, dan tinggal di Tasikmalaya.
Foto : Hj. Dea Mardiyanti, SH., M.H., CR., BC, Penulis adalah praktisi dan akademisi hukum adat Sunda, dan tinggal di Tasikmalaya.

Oleh: Hj. Dea Mardiyanti, SH., M.H., CR., BC.

Opini/ JournalNusantara.com - Masyarakat Sunda Parahiangan, yang mendiami wilayah Priangan, Jawa Barat, memiliki sistem nilai dan filosofi kepemimpinan yang sudah diterapkan sejak zaman kerajaan Sunda kuno (Galuh, Pajajaran, dan Salakanagara). Hasil penelusuran penulis, filosofi kepemimpinan itu sudah tercermin dalam konsep Astabrata, Tritangtu di Buana dan beragam siloka, kirata yang kini menjadi beragam simbol etis para pemimpin Sunda dalam mengelola ketatanegaraan.

Filosofis kepeminpinan Sunda dalam mengelola ketatanegaraan memang sudah ada sejak lama. Bahkan, filosifis ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga menjadi norma yang berbasis kearifan budaya lokal yang patut ditaati oleh para pemimpin Sunda. Ituah esensi internaisasi dari teori kontruksi realitas sosial yang ditelurkan oleh Berger dan Luckmann.

Teori tersebut memiliki tiga dimensi yakni eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Pengetahuan diperleh seseorang dari hasil dialektika dengan lingkungannya. Sebuah realitas yang menginternalisasi pada diri seseorang lambat laun akan menjadi norma atau aturan bagi individu, komunitas, atau organisasi tertentu. Karenanya, Astabrata, dan Tritangtu di Buana, merupakan norma atau etik yang sudah menginternalisasi pada masyarakat Sunda, kemudian diturunkan oleh para leluhur ke generasi berikutnya. Sehingga, nilai-nilak etik kehidupan Astabrata dan Tritanggu di Buana tetap tetap bertahan dan tidak akan punah ditelan zaman.

Foto : Hj. Dea Mardiyanti, SH., M.H., CR., BC, Penulis adalah praktisi dan akademisi hukum adat Sunda, dan tinggal di Tasikmalaya.
Foto : Hj. Dea Mardiyanti, SH., M.H., CR., BC, Penulis adalah praktisi dan akademisi hukum adat Sunda, dan tinggal di Tasikmalaya.

Astrabrata            

Secara etimologi Astabrata berasal dari kata asta (delapan) dan brata (sifat/laku). Astrabrata, sebuah simbol yang bermakna pemimpin  yang meneladani karakter delapan elemen alam. Simbol pun dimaknai keseimbangan antara kekuatan, kelembutan, dan kebijaksanaan. Astabrata tiada lain delapan simbol alam yang menggambarkan tentang kebijakan seorang pemimpin dalam mengelola ketatanegaraan. Astrabrata terdiri dari delapan elemen alam yang akrab dengan kehidupan manusia mulai dari bumi, gunung, laut, api, matahari, bulan, angin dan air.    

Bumi (Lemah) elemen pertama dalam Astabrata. Bumi merupakan simbol kesabaran dan keteguhan. Bumi memiliki makna keteguhan dan kesabaran. Bumi menopang kehidupan tanpa pamrih. Pemimpin harus menjadi fondasi yang stabil bagi rakyatnya. Ia wajib adil dalam membagi sumber daya, tidak memihak, dan mengutamakan kepentingan umum. Seorang pemimpin harus bijak dalam meredistribusi lahan untuk petani miskin, seperti Prabu Siliwangi dalam mengelola wilayah Pakuan Pajajaran. Di era modern ini para pemimpin seringkali melaupkan bumi,  padahal bumi melambangkan kesabaran pemimpin dalam merancang berbagai kebijakan.

Gunung (Pasir) elemen kedua Astabrata . Gunung merupakan lambang kewibawaan dan perlindungan. Serang pemipin merujuk simblo ini harus tinggi wawasannya, menjadi panutan, dan melindungi rakyat dari ancaman. Masih ingat kisah inspiratif dalam pantun Bogor? Prabu Tapa Agung dikenal sebagai pemimpin yang membangun benteng pertahanan untuk melindungi rakyat dari serangan musuh. Relevansi kisah ini dengan kekinian, pemimpin perlu tegas menghadapi korupsi, radikalisme, atau ketimpangan sosial sebagai bentuk “perlindungan” terhadap hak rakyat.

Laut (Samudra) melambangkan kedalaman llmu dan kerendahan hati. Pemimpin harus berilmu luas namun rendah hati. Ia harus mampu menampung aspirasi rakyat, seperti laut yang menerima semua aliran sungai. Filosofi Sunda: “Herang caina, benang laukna” (Jernih airnya, dapat ikannya). Ungkapan ini mengajarkan pemimpin yang bijak tidak mudah terbaca, tetapi transparan dalam tindakan. Seorang pemimpin memerlukan data hasl riset untuk mengambil sebuah kebijakan, dan tidak lupa ia menerima kritik.

Api (Seuneu) melambangkan semangat dan ketegasan. Pemimpin harus berani mengambil keputusan sulit untuk kebaikan bersama, seperti memberantas praktik korupsi atau reformasi birokrasi. Kisah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah) yang menghukum mati putranya sendiri karena mencuri. Kisah ini mencerminkan ketegasan tanpa kompromi.

Matahari (Panonpoé) melambangkan penerang dan inspirator. Matahari sumber kehidupan yang menerangi kegelapan. Pemimpin harus menjadi pencerah yang transparan, memberikan edukasi, dan menginspirasi inovasi. Program Sunda Membaca yang digagas pemerintah daerah bertujuan untuk meningkatkan literasi, atau penggunaan teknologi dalam pelayanan publik, merupakan salah satu bukti nyata dari aplikaksi simbol matahari.

Bulan (Sasih) memiliki makna kelembutan dan empati. Pemimpin harus peka terhadap penderitaan rakyat, seperti bulan yang menyinari malam dengan cahaya redup namun menenangkan. Tradisi “Silih Asih, Silih Asuh, Silih Asah” (saling mengasihi, merawat, dan mendidik) menjadi dasar kebijakan inklusif bagi kelompok rentan.

Air (Cai) memiliki makna fleksibilitas dan adaptasi. Air mengalir luwes mengikuti medan, tetapi memiliki kekuatan menghancurkan batu. Pemimpin harus fleksibel dalam menghadapi perubahan zaman, namun tetap berpegang pada prinsip kebenaran.Misalnya, kebijakan adaptasi perubahan iklim di Jawa Barat dengan memadukan teknologi modern dan kearifan lokal “huma” (sistem pertanian tradisional).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Empat Pilar Harus Ditanamkan Sejak Dini

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:17 WIB
X