Dua Sisi Mata Uang, Risiko dan Bahaya di Balik Olahraga

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 27 September 2025 | 20:00 WIB
Selebriti Jakarta Malinda Dinda bermain padel di Padel Ground Semarang, Jumat (26/9/2025).(suaramerdeka.com/Krisnaji Satriawan)
Selebriti Jakarta Malinda Dinda bermain padel di Padel Ground Semarang, Jumat (26/9/2025).(suaramerdeka.com/Krisnaji Satriawan)

Journalnusantara.com - Olahraga adalah pilar kesehatan, namun layaknya dua sisi mata uang, aktivitas fisik juga membawa risiko bahaya jika dilakukan tanpa persiapan, teknik yang benar, atau dalam intensitas berlebihan. Risiko ini umumnya terbagi menjadi dua kategori besar: cedera fisik dan dampak internal akibat overtraining.

1. Bahaya Cedera Fisik Akut

 

Cedera adalah risiko paling umum, seringkali disebabkan oleh kurangnya pemanasan, teknik yang salah, atau gerakan tiba-tiba yang melebihi batas kemampuan sendi dan otot. Jenis cedera yang paling sering terjadi meliputi:

Keseleo (Sprain): Cedera pada ligamen (jaringan yang menghubungkan tulang) akibat peregangan berlebihan, paling sering terjadi di pergelangan kaki, lutut, dan pergelangan tangan.

Ketegangan Otot (Strain): Kerusakan pada otot atau tendon (jaringan yang menghubungkan otot ke tulang), seperti hamstring yang tertarik atau robekan otot.

Cedera Lutut dan Bahu: Termasuk robekan pada ligamen (seperti ACL) atau cedera pada rotator cuff bahu, yang sering terjadi pada olahraga dengan gerakan memutar atau melompat.

Patah Tulang Stres (Stress Fracture): Retakan kecil pada tulang, terutama di kaki, yang disebabkan oleh tekanan berulang dan intensitas latihan yang ditingkatkan terlalu cepat.

2. Sindrom Olahraga Berlebihan (Overtraining)

 

Bahaya yang lebih tersembunyi muncul saat olahraga dilakukan secara ekstrem tanpa istirahat yang cukup, dikenal sebagai Sindrom Overtraining. Kondisi ini dapat mengganggu sistem internal tubuh secara serius:

Kelelahan Kronis dan Penurunan Imunitas: Tubuh tidak sempat pulih, menyebabkan penurunan energi permanen dan melemahnya sistem kekebalan, sehingga rentan terhadap infeksi.

Gangguan Hormonal: Pada wanita, olahraga intensitas tinggi yang ekstrem tanpa asupan kalori cukup dapat menyebabkan amenore (gangguan siklus menstruasi), yang memengaruhi kesehatan tulang dan reproduksi. Peningkatan hormon stres (kortisol) juga dapat terjadi.

Masalah Kardiovaskular: Latihan intensif yang berlebihan dapat memberikan tekanan ekstra pada jantung, meningkatkan risiko masalah irama jantung (aritmia) bagi individu yang rentan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kerjasama Media Online dengan Hotel

Senin, 6 April 2026 | 06:38 WIB
X