JOURNALNUSANTARA.COM, BANDUNG – Gelar Duta Pariwisata sering kali dipandang sebagai simbol kemewahan di atas panggung. Namun, bagi Ai Susanti, atribut tersebut hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan.
Gadis asal Jawa Barat ini baru saja menyelesaikan perjalanan spiritual umrah di usia 24 tahun, sebuah momen yang ia sebut sebagai "hadiah terindah" atas kemandiriannya sejak kecil.
Ai tumbuh besar sebagai sosok yang tangguh. Kehilangan sosok ayah sejak dini memaksanya untuk mandiri lebih cepat. Ia berjuang dari nol untuk membiayai pendidikannya sendiri sembari mengasuh adik-adik yatim dhuafa.
Pengalaman hidup inilah yang membentuk karakter pengabdian dan rasa syukur dalam dirinya. "Perjalanan paling jauh dan paling berarti bukanlah saat aku mempromosikan keindahan Jawa Barat ke pelosok negeri, melainkan saat langkah kaki ini berhenti tepat di depan Ka'bah," ujar Ai.
Perjuangan dari Saldo Rp 200.000
Niat untuk berangkat ke Tanah Suci sebenarnya sempat menemui jalan buntu. Pada awal 2025, Ai mengaku berada di titik terendah. Kondisi finansialnya saat itu sangat terbatas, dengan saldo rekening yang hanya menyisakan Rp 200.000.
Namun, keyakinannya pada "jalur langit" tidak surut. Ia terus mencari informasi mengenai travel umrah dan tetap konsisten mengetuk pintu Arsy melalui doa. Keajaiban mulai muncul ketika tawaran pekerjaan sebagai Master of Ceremony (MC) dan narasumber mengalir deras dalam waktu singkat.
"Qodarullah, melalui Diva Wisata, pintu itu terbuka. Keajaiban datang bertubi-tubi. Meski raga sempat tumbang hingga harus diinfus karena kelelahan mengejar persiapan, semangatku tetap menyala," tuturnya.
Refleksi di Tanah Suci
Tepat pada 25 Februari, Ai resmi berangkat menuju Tanah Para Nabi. Perjalanan ini ia maknai bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah refleksi profesional dan spiritual.
Sebagai seorang praktisi komunikasi, ia mengaku banyak belajar dari ketulusan para tour leader dan muthowif dalam melayani jamaah.
Momen puncak terasa saat ia pertama kali menatap Ka’bah di Masjidil Haram. Air mata jatuh tak terbendung, menyadari bahwa segala gelar duniawi yang ia miliki tidak ada artinya dibanding status sebagai tamu Allah.
Terlebih, perjalanannya kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, momen yang memiliki keutamaan besar dalam Islam.
"Aku belajar bahwa Allah tidak memanggil mereka yang mampu, tapi Allah memampukan mereka yang rindu dan berani melangkah dengan keyakinan," pungkas Ai.
Artikel Terkait
Meniti Tangga Kesuksesan Melalui Bisnis Perlahan
Melintasi Jawa dengan Estetika Kereta Api Modern
Wajah Cantik dan Senyum Tulus Pramugari di Balik Kesibukan Mudik Lebaran
Cantiknya Pol! Rahasia Tubuh Bugar dan Wajah Segar dengan Olahraga Pagi yang Seimbang
Mutiara Pagi: Syawal Cermin Ramadan (Bagian 2156)
Mutiara Pagi: Harapan yang Tersisa (Bagian 2157)
Wisata Pasca Lebaran, Momen Hangat Mempererat Silaturahmi
Persiapan Matang Liburan Pasca Lebaran
Menjaga Kesehatan Tubuh Pasca Perayaan Lebaran
Tips Pola Makan Sehat Pasca Lebaran