Usia yang Cenderung Terpapar Hoaks
Hasil riset ICJF pada Februari 2019 yang melibatkan 1586 orang berusia 17 tahun ke atas di Pulau Jawa menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh langsung terhadap penyebaran hoaks. Tetapi, usia berkorelasi positif terhadap penyebaran hoaks.
Hasil riset menunjukkan hubungan positif antara usia dengan tingkat kepercayaan terhadap informasi dari WhatsApp. Riset menunjukkan sebanyak 40,92% dari total 1586 responden percaya terhadap informasi dari WhatsApp.
Baca Juga: Pemulihan Pasca Gempa Cianjur, Pemprov Jabar Terus Salurkan Bantuan Logistik
Rinciannya adalah sebagai berikut: usia 17-21 (34,95), usia 22-35 (37,85%), usia 36-45 (56,64%), dan usia di atas 45 (66,67%). Dari beberapa kelompok usia, usia di atas 45 tahun yang tingkat kepercayaan terhadap informasi dari WhatsApp cenderung tinggi.
Selain itu, terdapat hubungan antara usia dengan tingkat kepercayaan terhadap informasi untuk membagikan informasi ke beberapa grup sesuai dengan keinginan sendiri. Usia yang lebih tua lebih mudah membagikan informasi ke beberapa grup dibandingkan dengan usia yang lebih muda.
Motif Penyebaran Informasi Hoaks
Informasi hoaks dibuat dengan beragam tujuan. Biasanya, informasi hoaks muncul ke permukaan ketika isu mencuat, terutama ketika pemilihan presiden. Hoaks digunakan untuk menjatuhkan lawan politik dengan membuat kampanye hitam.
Di antara tujuan hoaks adalah menggiring, membuat, dan membentuk opini publik, kesenangan untuk menguji kecerdasan, sekedar iseng, dan penipuan dalam promosi.
Hoaks pasti bermuatan negatif bagi persepsi. Pembaca memandang informasi itu benar, padahal belum tentu benar. Apabila informasi ini disebarkan, maka terjadi banjir informasi yang tidak benar.
Untuk mengatasi ini, kemampuan dalam pengecekan berita mesti ditingkatkan. Berita yang diterima tidak mesti langsung disebar, melainkan dibaca, dipahami, dan dikonfirmasi kebenarannya. Tentu hal ini perlu pengetahuan dan keterampilan khusus.
Baca Juga: Islamic Trauma Healing: Kebutuhan Anak-Anak Korban Gempa Mendesak
Dalam hal ini, literasi digital menjadi keniscayaan. Masyarakat hendaknya dapat dididik dan dilatih untuk kemampuan literasi digital. Kecerdasan dalam literasi digital menjadi kebutuhan khusus, sebab dunia media sosial sudah merambah pada setiap dunia informasi bagi masyarakat.
Artikel Terkait
Dianggap Mahluk Paling Bodoh di Muka Bumi Yang Hadiri Acara Reuni Akbar PA 212 di TMII
Jess No Limit dan Sisca Kohl Akhirnya Membagikan Momen Pernikahan
Putri Leonor, Pewaris Takhta Kerajaan Spanyol yang Diketahui Mengidolai Gavi
Menetapkan Prioritas Penting, 4 Cara Menyusun Prioritas dalam Hidup
Mitigasi Bencana Alam
Para Relawan Kesulitan saat Membantu Para Korban Gempa bumi Cianjur
Ustadz Derry Sulaiman Mengunjungi Lokasi Gempa Bumi di Cianjur, Jawa Barat
Hari Aids Se-Dunia, Yayasan Hope Pandora Kota Bekasi Gelar Aksi Simpatik
Curva Nord Bekasi Sambangi Pengungsi Korban Gempa Cianjur di Kampung Barukaso Cugenang
Penting! Inilah Cara Menghapus Jejak Digital di Internet