Mengapa Masih Ada yang Posting Hoaks?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 2 Desember 2022 | 04:47 WIB
Rudi Ahmad Suryadi: Mengapa masih banyak yang menyebarkan berita hoaks?
Rudi Ahmad Suryadi: Mengapa masih banyak yang menyebarkan berita hoaks?

Usia yang Cenderung Terpapar Hoaks

Hasil riset ICJF pada Februari 2019 yang melibatkan 1586 orang berusia 17 tahun ke atas di Pulau Jawa menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh langsung terhadap penyebaran hoaks. Tetapi, usia berkorelasi positif terhadap penyebaran hoaks.

Hasil riset menunjukkan hubungan positif antara usia dengan tingkat kepercayaan terhadap informasi dari WhatsApp. Riset menunjukkan sebanyak 40,92% dari total 1586 responden percaya terhadap informasi dari WhatsApp.

Baca Juga: Pemulihan Pasca Gempa Cianjur, Pemprov Jabar Terus Salurkan Bantuan Logistik

Rinciannya adalah sebagai berikut: usia 17-21 (34,95), usia 22-35 (37,85%), usia 36-45 (56,64%), dan usia di atas 45 (66,67%). Dari beberapa kelompok usia, usia di atas 45 tahun yang tingkat kepercayaan terhadap informasi dari WhatsApp cenderung tinggi.

Selain itu, terdapat hubungan antara usia dengan tingkat kepercayaan terhadap informasi untuk membagikan informasi ke beberapa grup sesuai dengan keinginan sendiri. Usia yang lebih tua lebih mudah membagikan informasi ke beberapa grup dibandingkan dengan usia yang lebih muda.

Motif Penyebaran Informasi Hoaks
Informasi hoaks dibuat dengan beragam tujuan. Biasanya, informasi hoaks muncul ke permukaan ketika isu mencuat, terutama ketika pemilihan presiden. Hoaks digunakan untuk menjatuhkan lawan politik dengan membuat kampanye hitam.

Di antara tujuan hoaks adalah menggiring, membuat, dan membentuk opini publik, kesenangan untuk menguji kecerdasan, sekedar iseng, dan penipuan dalam promosi.

Hoaks pasti bermuatan negatif bagi persepsi. Pembaca memandang informasi itu benar, padahal belum tentu benar. Apabila informasi ini disebarkan, maka terjadi banjir informasi yang tidak benar.

Untuk mengatasi ini, kemampuan dalam pengecekan berita mesti ditingkatkan. Berita yang diterima tidak mesti langsung disebar, melainkan dibaca, dipahami, dan dikonfirmasi kebenarannya. Tentu hal ini perlu pengetahuan dan keterampilan khusus.

Baca Juga: Islamic Trauma Healing: Kebutuhan Anak-Anak Korban Gempa Mendesak

Dalam hal ini, literasi digital menjadi keniscayaan. Masyarakat hendaknya dapat dididik dan dilatih untuk kemampuan literasi digital. Kecerdasan dalam literasi digital menjadi kebutuhan khusus, sebab dunia media sosial sudah merambah pada setiap dunia informasi bagi masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X