Masalah yang lebih mendasar lagi adalah fragmentasi kelembagaan.
Laut masih diperlakukan sebagai kumpulan sektor yang terpisah.
Perikanan berjalan sendiri. Pelabuhan berjalan sendiri. Pariwisata berjalan sendiri. Konservasi berjalan sendiri. Energi berjalan sendiri. Pertahanan berjalan sendiri.
Padahal laut tidak bekerja seperti kementerian. Laut bekerja sebagai satu sistem.
Tidak ada negara maritim besar yang berhasil karena kementeriannya hebat sendiri-sendiri.
Mereka berhasil karena institusinya mampu bekerja sebagai satu kesatuan.
Dan mungkin kritik yang paling tidak nyaman adalah ini:
Indonesia masih terlalu fokus membangun infrastruktur fisik dibanding infrastruktur pengetahuan.
Pelabuhan dapat dibangun dalam lima tahun. Kapal dapat dibeli dalam beberapa bulan. Tetapi ekosistem pengetahuan membutuhkan puluhan tahun.
Universitas maritim kelas dunia tidak lahir dari proyek. Pusat riset kelautan unggulan tidak lahir dari seremoni. Klaster inovasi maritim tidak lahir dari peresmian gedung.
Mereka lahir dari investasi jangka panjang pada manusia, riset, dan institusi.
Dan justru di sinilah negara-negara seperti Denmark, Belanda, dan Norwegia unggul jauh di depan kita.
Penutup
Maka pertanyaan terbesar bagi Indonesia bukanlah:
"Berapa banyak pelabuhan yang harus dibangun?"