Norwegia mengajarkan bahwa masa depan ekonomi maritim bukan terletak pada eksploitasi laut, melainkan pada pengelolaan laut.
Mereka menggunakan ilmu pengetahuan untuk menentukan kuota tangkap, mengembangkan akuakultur berbasis teknologi, dan menjadikan keberlanjutan sebagai strategi pertumbuhan ekonomi.
Mereka memahami bahwa laut yang sehat bukan lawan dari kemakmuran. Laut yang sehat adalah syarat bagi kemakmuran.
Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa kekuatan maritim tidak pernah berdiri sendiri.
Ia tumbuh bersama industrialisasi nasional. Pelabuhan mereka terhubung dengan manufaktur. Manufaktur terhubung dengan inovasi. Inovasi terhubung dengan ekspor. Laut menjadi platform pembangunan ekonomi nasional.
Kritik terhadap Indonesia
Namun justru di sinilah kritik paling mendasar terhadap pembangunan kelautan Indonesia selama ini.
Masalah kita bukan kekurangan rancangan program. Masalah kita adalah terlalu sering mengganti slogan tanpa sungguh-sungguh membangun institusi.
Kita berganti-ganti jargon: negara maritim, poros maritim dunia, ekonomi biru, hilirisasi kelautan, konektivitas antarpulau.
Tetapi terlalu banyak energi habis untuk meluncurkan konsep baru, dan terlalu sedikit energi digunakan untuk membangun kapasitas institusi yang membuat konsep-konsep tersebut bekerja.
Akibatnya, banyak kebijakan maritim Indonesia berhenti pada tingkat retorika.
Kita juga terlalu sering terjebak pada apa yang bisa disebut sebagai ilusi beton.
Kita percaya bahwa membangun pelabuhan berarti membangun ekonomi maritim.
Kita percaya bahwa memperpanjang dermaga berarti meningkatkan daya saing.
Kita percaya bahwa membeli kapal berarti memperkuat sistem logistik nasional.