Penerimaan Pancasila sebagai asas NKRI ini, juga terinspirasi dari Piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW. untuk menyatukan semua golongan, tanpa membedakan agama, suku dan ras, demi membangun negara Madinah yang aman dari serangan musuh, tentram, damai dan sejahtera.
Jika Madinah dipimpin oleh Rasulullah bisa menjadi embrio gerak pencerahan Islam (the renaissance of Islam) yang membuana ke seluruh benua, sehingga lahir kejayaan peradaban Islam selama 6 abad lebih tatkala Barat yang saat itu tertidur lelap dalam keterbelakangan.
Baca Juga: Selebgram Putri Melania Bicara Pentingnya Pancasila
Bagaimana masa depan peradaban bangsa Indonensia dengan segala tantangannya saat ini? Kita meyakini bahwa Indonesia dengan Pancasila adalah kesepakatan final yang tidak perlu diperdebatkan lagi karena ini merupakan hasil ijtihad dan kesepakatan dari para ulama yang harus dijaga dan terus diperjuangkan agar dapat menggapai puncak kesejahteraan bersama.
Untuk mencapai ke sana, yang menjadi syarat utamanya adalah ketika kita mampu menegakkan spirit Piagam Madinah, yaitu al-’adl dan al-ihsan seperti yang tercermin dalam Alquran surat An-Nahl: 90.
Apa itu al-‘adl (keadilan) dan al-ihsan (kebajikan)?
Sayyidina Ali bin Abi Thalib mendefinisikan ‘adil dengan wadh’u syaiin fi mahallihi, meletakkan sesuatu pada tempatnya. Di sini, keadilan identik dengan kesesuaian dan proporsional. Karena itu, keadilan tidak mengharuskan persamaan kadar dan syarat bagi semua bagian unit agar seimbang.
Bisa jadi satu bagian berukuran kecil atau besar, sedangkan kecil dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya. Jadi, seruan menegakkan keadilan harus terwujud di tengah masyarakat.
Untuk Indonesia yang lebih baik, keadilan mesti ditegakkan dalam segala bidang kehidupan, baik hukum, ekonomi, maupun kehidupan sosial politik.
Keadilan hukum itu berarti sama rata dan sama rasa, keadilan ekonomi itu berarti sama rasa tapi tak sama rata sedangkan keadilan sosial politik adalah sama rata tapi tak sama rasa. Keadilan harus ditegakkan dimulai dari pikiran, sikap, dan perilaku konkret dalam berbangsa dan bernegara.
Keadilan tidak akan pernah muncul jika setiap kita tidak menyadari bahwa adil itu kewajiban setiap orang. Adil harus dipraktikkan, bukan diteorikan, apalagi hanya jadi bahan diskursus di media sosial.
Khusus bagi pihak yang menerima amanah, yaitu para pemimpin negeri ini harus benar-benar memahami tentang nilai keadilan dan terus berupaya agar keadilan benar-benar dapat ditegakkan.
Bagaimana dengan al-ihsan? Kata ihsan lebih tinggi daripada kata al-khair.
Baca Juga: Panglima TNI Ikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Monas
Imam Thabathaba’i menganggap ihsan adalah kebajikan kepada orang lain, dalam setiap situasi. Maksudnya adalah membalas kebaikan dengan yang lebih baik, dan membalas keburukan dengan kebaikan.
Bahkan untuk berbuat baik tak menunggu dan tak mengharapkan kebaikan orang lain karena landasannya adalah iman dan Islam.
Artikel Terkait
Gelar RTK, PK PMII STISNU Cianjur Bicara Pentingnya Regenerasi Kader
Transformasi Trio Sinaran, Peraih Gelar Puteri Indonesia 2023
Dalam Rapimnas Gerakan Pemuda Ka'bah, Sandiaga Uno Beri SInyal Ingin Jadi Cawapres Ganjar Pranowo
Ustadz Adi Hidayat (UAH) di Ganjar Gelar Doctor Honoris Causa Oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta
Panglima TNI Ikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Monas
Mahmud MD Merespon Kekhawatiran Kubu Anies Terkait Isu Penjegalan Dalam Pilpres 2024
Tanyakan Dana Stimulan Gempa, Pendopo Cianjur di Demo Hingga Pintu Gerbang Utara Jebol
Selebgram Putri Melania Bicara Pentingnya Pancasila
Parpol Wajib Memberikan Pendidikan Politik Untuk Masyarakat
Miris, KPK Sebut Hanya 4% Orangtua Mampu Ajarkan Kejujuran pada Anak