JournalNusantara.com - Sosok Ustadz Adi Hidayat (UAH) dikenal baik oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu da'i cerdas karena memiliki hapalan yang luar biasa dan mampu memberikan ceramah yang dalam serta gampang dicerna. Maka tak aneh tayangan dan ceramah UAH selalu dipadati ribuan jamaah.
Baru-baru ini, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) telah menganugerahkan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa untuk Ustad Adi Hidayat (UAH) dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam. Gelar ini tertuang dalam SK Rektor UMJ Nomor 218 Tahun 2023.
Baca Juga: Dalam Rapimnas Gerakan Pemuda Ka'bah, Sandiaga Uno Beri SInyal Ingin Jadi Cawapres Ganjar Pranowo
Diketahui selama dua tahun UAH telah melakukan penelitian, penelusuran kebenaran, serta penilaian kelayakan dan kepatutan Tim Promotor UMJ. UAH dinilai oleh masyarakat Islam Indonesia sebagai figur yang memiliki kedalaman Ilmu Pengetahuan bidang agama Islam, terutama dalam pengelolaan lembaga pendidikan, pengelolaan model dakwah Islam dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.
Rektor UMJ, Ma’mun Murod menyampaikan, pertimbangan lainnya dari penganugerahan tersebut bukan hanya didasari bahwa UAH adalah kader Muhammadiyah.
”Saya menilai Ustad Adi Hidayat sebagai sosok yang sangat cerdas, dapat menghasilkan 1 metode menghafal Alquran yaitu metode At-Taisir. Selain itu, saya menyebut UAH sebagai dai yang sangat alim bahkan humoris, namun jarang tertawa memperlihatkan gigi, karena disitulah sunahnya," kata Ma’mun, Selasa (30/5).
Baca Juga: Gelar RTK, PK PMII STISNU Cianjur Bicara Pentingnya Regenerasi Kader
Sementara, UAH menegaskan, orasi ilmiah yang disampaikannya berdasarkan pendidikan yang telah didirikan dan dibangun yaitu Yayasan Quantum Akhyar Institute (QAI) di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Yayasan tersebut bergerak di bidang studi Islam dan pengembangan dakwah.
Penyelenggaraan pendidikan di QAI terdiri dari pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal yang saat ini diselenggarakan QAI terdiri dari Akhyar Internasional Islamic School (AIIS) yang dimulai dari kelompok bermain, TK hingga Sekolah Dasar.
Baca Juga: Promedia Teknologi Bersama Kemenkop UKM Bangun Megaportal Bantu UMKM Naik Kelas
Kurikulum yang digunakan AIIS berdasar pada nilai keislaman sesuai nilai-nilai Alquran dan hadist dipadukan dengan standar pendidikan nasional. Selain itu kurikulum juga memadukan tiga poros yaitu poros masjid, poros rumah, dan poros sekolah.
Pendidikan formal selanjutnya dalah Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang setingkat dengan program sarjana, magister, dan doktor. Sementara itu pendidikan non-formal terselenggara melalui program At-Taisir Learning Center (ALC) dan Ma’had Islam Rafiah Akhyar Institute (MIRA Institute).
UAH menuturkan bahwa orasi ilmiah pada rangkaian penganugerahan itu disampaikan sesuai dengan harapan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum dalam UU Sisdiknas. Dengan manajemen pendidikan Islam tersebut, diharapkan akan melahirkan insan-insan mulia dan cerdas di bidangnya.
Baca Juga: Fitnah Kehidupan - Bagian 2
Artikel Terkait
Polres Cianjur Bekuk 2 Pelaku Pencurian Motor
Denny Indrayana Sebar Rilis Soal Putusan MK, Apa Isinya ?
Tyronne Del Pino Eks Pemain Liga Spanyol Perkuat Maung Bandung
Dengan Bingkai Fhoto Twibbon, Peringati Harla Pancasila Jadi Makin Keren.... Cek Disini Linknya
Kang Firman Hidayat You Touber Cianjur, Belajar Kehidupan dari Media Sosial
Fitnah Kehidupan - Bagian 2
Promedia Teknologi Bersama Kemenkop UKM Bangun Megaportal Bantu UMKM Naik Kelas
Gelar RTK, PK PMII STISNU Cianjur Bicara Pentingnya Regenerasi Kader
Transformasi Trio Sinaran, Peraih Gelar Puteri Indonesia 2023
Dalam Rapimnas Gerakan Pemuda Ka'bah, Sandiaga Uno Beri SInyal Ingin Jadi Cawapres Ganjar Pranowo