Pun ketika pemungutan suara Pilpres 2016 kian dekat. Ada keruwetan yang bisa jadi bom menjelang rakyat pergi ke TPS. Apalagi sudah mulai ada selentingan banyak wanita akan membongkar hubungan di luar nikah mereka dengan Trump. Sudah ada yang menghubungi sebuah media cetak.
Cohen-lah yang turun tangan. Ia menghubungi seorang penerbit media. Permainan pun diatur. Media itu diminta membeli hak wawancara khusus dengan bintang Playboy, Karen McDougal. Nilainya USD 150.000. Setelah itu bintang majalah porno ini tidak boleh memberikan keterangan kepada siapa pun. Juga kepada media apa pun. Selain yang sudah dilakukan dengan media tersebut.
Setelah mendapat hak eksklusif tersebut National Enquirer tidak pernah menerbitkan menyiarkannya. Media lain tidak bisa menyiarkannya. Maka skandal Trump dengan Karen McDougal berhasil diatasi oleh Cohen dengan teknik take it & kill it. Biasa juga disebut catch & kill.
Tapi masih ada satu bom lagi: si bintang film porno Stormy Daniels. Cohen juga yang diminta turun tangan. Cohen pilih cara yang lain lagi: bayar saja dengan uang tutup mulut. Nilainya hampir Rp 2 miliar.
Lalu dibuatkan dokumen perjanjian. Tapi dokumen ''perdamaian'' itu rupanya cacat. Setidaknya menurut pengacara Daniels. Cewek ini pun merasa tidak terikat dengan isi perjanjian tutup mulut tersebut. Pihak Trump, katanya, tidak ada yang membubuhkan tanda tangan di perjanjian itu.
Jaksa New York merasa lebih pasti berhasil bila Cohen yang diusut. Apalagi ada indikasi pidana lain: pajak. Puncak pengusutan pada Cohen ini terjadi tahun 2018: FBI menggeledah kantor Cohen.
Semua bukti yang diperlukan ditemukan. Termasuk dari mana Cohen membayar uang tutup mulut itu. Lalu uang itu diganti oleh Trump. Diambilkan dari perusahaan Trump. Dengan alasan itu untuk pembayaran jasa pengacara. Cohen memang seorang pengacara. Sejak sebelum bergabung dengan Trump.
Di grup usaha Trump, Cohen lantas menjadi orang tepercaya. Sampai menduduki jabatan wakil direktur utama. Tapi tugas pokoknya ya itu tadi, membereskan apa pun urusan ruwet di sekitar Trump. Anda masih ingat: Trump adalah pengusaha yang paling banyak memperkarakan orang. Termasuk kontraktor dan partnernya. Trump gemar beperkara ke pengadilan. Karena itu orang seperti Cohen penting baginya.
Setelah penggeledahan itu Cohen sangat terpojok. Lalu ia mengakui bersalah. Soal pajak. Juga soal pembayaran uang tutup mulut itu. Tapi semua itu atas sepengetahuan dan perintah Trump.
Masih ada satu lagi yang Cohen mengaku bersalah: ia berbohong di depan parlemen. Yakni ketika bersaksi mengenai kegiatan bisnis Trump di Rusia. Cohen, di parlemen, mengatakan Trump berencana membangun Trump Tower di Moskow. "Saya disuruh Trump untuk berbohong begitu," ujar Cohen.
Cohen punya istri orang Ukraina kelahiran Ukraina. Lalu diajak orang tuanyi bermigrasi ke Amerika. Mertua inilah yang memperkenalkan Cohen ke Trump.
Sejak muda Cohen termasuk yang mengidolakan Trump. Ingin dekat Trump. Bahkan ia beli rumah di gedung Trump. Juga beli kantor di gedung itu.
Cohen pun tahu Trump luar dalam. Akhirnya ia harus bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Dengan mengaku bersalah itu Cohen tidak perlu diadili. Ia langsung dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Ia jalani itu di penjara Otisville, sekitar 100 km di barat laut kota New York.
Artikel Terkait
Wapres RI Dorong Pemulihan Ekosistem Lingkungan
Memaknai Keberkahan Ramadan - 09
Pasca Pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia, Dukungan untuk Erick Thohir Tak Pernah Berhenti
Respon Pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia, Wapres RI: Kita Ambil Hikmahnya
Cara Pengajuan Tunjangan Insentif Guru Madrasah Bukan PNS Dibuka Hingga 7 April 2023
Exco PSSI: Indonesia Tidak Mundur Dari Drawing Piala Dunia U-20
Jelang HUT TNI AU, 11 Pesawat F-16 Mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma
Simak! Cara Mudah Membuat SIM
Harga Emas Antam Merangkak Naik, Segini Harganya
Berkah Ramadan, Polsek Cikancung Polresta Bandung Berbagi Sembako