Oleh: Nanang Gojali
Seperti kata pepatah, "tak kenal maka tak cinta". Tak kenal Allah, maka tak cinta Allah. Cinta adalah buah dari kenal. Buah kenal Allah adalah cinta kepadaNya. Cinta adalah benih kebahagiaan. Maka, untuk mencintai Allah, kita mesti kenal Allah, karena mencintai Allah adalah benih kebahagiaan tertinggi.
Dengan demikian, kunci kebahagiaan yang sejati terletak pada pengenalan tentang Allah. Tingkat kebahagiaan seseorang tergantung, atau sesuai dengan, tingkat pengenalannya kepadaNya. Ada banyak tingkatan pengetahuan yang dapat mengantarkan seseorang untuk mengenal Penciptanya.
Ahli fisika, seperti seekor semut yang merangkak di atas selembar kertas dan mengamati huruf-huruf hitam yang tersebar di atasnya, akan menujukan "sebab" hanya kepada pena saja.
Seorang astronom, seperti seekor semut dengan pandangan agak lebih luas, bisa melihat jari-jari yang menggerakkan pena.
Baca Juga: Persib Bandung Terus Berupaya Kejar PSM
Maksudnya, ia mengetahui bahwa unsur-unsur tersebut berada di bawah kekuasaan bintang-bintang, tetapi ia tidak mengetahui bahwa bintang-bintang berada di bawah kekuasaan malaikat-malaikat.
Jadi, sehubungan dengan berbagai tingkat persepsi manusia, perdebatan mesti timbul dalam melacak sebab dari akibat.
Orang-orang yang matanya tidak pernah melihat ke balik dunia-gejala, adalah seperti orang-orang yang salah menempatkan hamba-hamba dari tingkatan yang paling rendah ke tingkatan raja.
Hukum-hukum tentang gejala-gejala alam mesti tetap, karena jika tidak, tak akan ada sains dan sebagainya. Tetapi untuk menempatkan hamba sebagai majikan adalah suatu kesalahan besar.
Selama perbedaan di dalam fakultas perseptif para pengamat ini masih ada, perdebatan masih akan berlanjut. Bagaikan beberapa orang buta yang mendengar bahwa seekor gajah telah datang ke kotanya, lantas pergi menyelidikinya.
Pengetahuan yang bisa mereka peroleh hanyalah lewat indera perasaan, sehingga ketika seorang memegang kaki sang binatang, yang satu lagi memegang gadingnya dan yang lain telinganya, dan, sesuai dengan persepsi mereka masing-masing, mereka menyatakannya sebagai suatu batangan, suatu tabung yang tebal dan suatu lapisan kapas. Masing-masing mengambil sebagian untuk menyatakan keseluruhannya.
Jadi, ahli fisika dan astronomi mengacaukan hukum-hukum yang mereka tangkap dengan Sang Penetap hukum-hukum.
Kesalahan yang sama dilemparkan kepada Ibrahim di dalam al-Qur'an yang meriwayatkan bahwa ia berturut-turut berpaling kepada bintang-bintang, bulan dan matahari sebagai obyek-obyek penyembahan, sampai kemudian menjadi sadar tentang Dia yang membuat segala sesuatu.
Ibrahim pun berseru: "Saya tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam"
Artikel Terkait
Sekulerisme: Ideologi Jaringan Koruptor
BPD IMA AMS Gagas Forum Group Discussion OKP dan Pemuda Daerah Cianjur
Ridwan Kamil Hadiahi Dana Pendidikan bagi Siswa yang Patungan Beli Sepatu untuk Temannya
Spirit Guru Bangsa: Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafi’i dalam Aspek Bernegara Masa Kini
Kemendagri Diminta Tanggungjawab atas Pembiayaan Program Beasiswa Affirmasi Otsus Papua
Waspada...Suami Selingkuh dengan Adik Ipar, Hebohkan Jagat Tiktok hingga Twitter
Wow...Gaji Pokok Pensiunan PNS dan Gaji Pensiunan Janda Duda, Dikabarkan Naik
KPAI dan KPAID Cianjur Komitmen Bantu Pemulihan Pasca Gempa
Satu Persen APBN Untuk Diplomasi Budaya
Persib Bandung Terus Berupaya Kejar PSM