Merencanakan Kematian Husnul Khatimah

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 22 Februari 2023 | 09:01 WIB
Nanang Gojali
Nanang Gojali

Oleh: Nanang Gojali (Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Cianjur)


Husnul khatimah (حسن الخاتمة) artinya adalah "akhir yang baik". Maksudnya adalah akhir kehidupan yang baik.

Penulisan transliterasi yang benar adalah "husnul khatimah", bukan "khusnul khatimah", yang artinya "akhir kehidupan yang hina".

Husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik adalah dambaan setiap Mukmin. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Setiap Muslim hendaknya selalu berharap akan mengakhiri episode kehidupan di dunia ini dengan selamat, karena amal seseorang akan ditentukan amal pada akhir hayatnya.

“Sesungguhnya ada hamba yang mengerjakan amal yang menurut pandangan manusia adalah amal surga, namun sejatinya itu adalah kegiatan penduduk neraka. Dan ada pula orang yang menjalani kehidupan yang menurut pandangan orang-orang adalah perilaku ahli neraka, namun sebenarnya amal tersebut merupakan amal ahli surga. Yang penting pada setiap amal adalah bagaimana akhirnya.” (HR. Bukhari: 6493).

Baca Juga: Mi'rajkan Hati ke Hadirat Illahi Robby

Hadits di atas menjelaskan pentingnya penutup akhir kehidupan. Detik-detik menjelang kematian merupakan ujian terbesar yang bakal dimanfaatkan iblis untuk menjadikan orang tersebut sesat dan selama-lamanya masuk neraka.

“Diriwayatkan, setan tidak menggoda anak Adam melebihi hebatnya godaan pada saat orang akan meninggal dunia. Pada saat itu, setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kumpul di sini, jika kalian tidak bisa menyesatkannya pada hari ini, kalian tidak lagi bisa menggodanya selamanya’.” (Muhammad Asyraf bin Amir Abadi, Aunul Ma’bud, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetaka II, 1415 H, juz 4, halaman 287).

Orang yang sedang sakaratul maut, saking sakitnya perpisahan antara nyawa dengan jasad, akan merasakan haus yang luar biasa. Setan akan selalu menggoda menawari iming-iming berupa minuman, namun dengan syarat mau menyekutukan Allah.

Karena itu, untuk menghindari kehausan dan fitnah godaan iblis, disunnahkan atau bahkan bisa wajib hukumnya memberikan minuman kepada orang yang sedang sakaratul maut, apabila terlihat ada tanda-tanda sangat membutuhkannya.

“Dan diberi tegukan air dengan hukum sunnah bahkan menjadi wajib apabila terlihat ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa orang yang sakaratul maut sedang membutuhkannya. Di antara tanda yang muncul mungkin seperti raut muka ceria. Sebab haus memang sedang melanda hebat karena saking beratnya naza’.

Oleh karena itu setan datang dengan air yang putih seputih telur. Ia berkata ‘Katakan tidak ada Tuhan selain aku (setan) sampai aku memberikan minuman kepadamu’.” (Sayyid Ba’alawi Al-Hadrami, Bughyatul Mustarsyidin, Maktabah Darul Fikr, halaman 151).

Baca Juga: SMRC: Muhaimin Iskandar, Mahfudz MD, dan Khofifah Indar Parawansa Tokoh NU Paling Kompetitif di Pilpres 2024

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X