Journalnusantara.com, Sukabumi - Pondok Pesantren Sirojul Athfal beralamat di Kampung Cibaraja, RT 054 RW 012, Desa Cibolangkaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Pondok Pesantren Sirojul Athfal didirikan oleh KH. Muhammad Kholilullah dengan diawali mendirikan Majlis Taklim (Sholawatan) An Nur pada tahun 1943.
Dinamakan Sirojul Athfal mengambil dari nama Pesantren dimana Ia menimba ilmu disana selama 11 tahun dan mengajar selama 30 tahun oleh karenanya KH. Muhammad Kholilullah adalah Tasyabah bi al-Salafi al-Sholihin mina al-Mutaqaddimin fi Thobaqaati al-Ula yang merupakan seorang murid dan kepercayaan K.H. Masthuro selaku paman sekaligus gurunya. Pondok Pesantren tersebut sekarang bernama Al-Masthuriyah.
Arti Sirojul Athfal secara harfiah adalah Lampu/lentera anak-anak, dengan harapan Pondok Pesantren Sirojul Athflal dapat mencetak tunas bangsa yang berhati mekkah, berakhlaq Madinah dan kehidupan yang penuh barokah.
Majelis Ta’lim ini adalah salah satu media dakwah pertama yang dilakukan beliau untuk dakwah islamiyyah, disamping beliaupun berdakwah sampai ke pedalaman Sukabumi, terutama di bulan-bulan Perayaan Hari Besar Islam seperti bulan Maulud dan Rajab.
Baca Juga: Gas Elpiji Mahal, JIM dan Aliansi Mahasiswa Tolak Kenaikan LPG Kabupaten Cianjur
Barulah pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1377 H bertepatan dengan 1 Januari 1958 M, didirikan Bangunan Pondok Pesantren, Pada Tahun 1959 didirikan Madrasah Diniyah dan Tahun 1967 didirikan Madrasah Ibtidaiyah. Nama Institusi Pendidikan Islam baik yang formal dan non formal tersebut dinamakan Sirojul Athfal.
Materi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Pesantren
Materi KBM dititik beratkan pada tiga pokok disiplin keilmuan yakni: Aqidah, Akhlaqul Karimah dan Ibadah yang bersumber dari Kitab kuning yang menjadi ciri khas dan merupakan salah satu ikon santri.
Kitab kuning disebut kitab Turats yang merupakan peninggalan para ulama dan cendekiawan Islam terdahulu. Darinya, kita dapat memahami Al Quran dan Sunah serta kondisi umat Islam, khususnya bangsa Arab.
Kitab Turats berkembang tidak jauh dari masa Nabi Muhammad SAW. Meski begitu, beberapa pakar sejarah memberikan batas bahwa hasil karya ulama dan cendekiawan sebelum masa Abbas Pasha (1812-1854 M) dari Dinasti Ali Pasha di Mesir, disebut turats dan setelahnya disebut kitab muatsir (kitab-kitab kontemporer).
Klasifikasi tersebut tidak lain karena adanya perkembangan pembelajaran atas keilmuan dan pemikiran Islam yang telah terwarnai dengan metode berfikir Barat. Kemudian dipelajari oleh para cendikiawan Umat Islam.
Baca Juga: Duta Genre Kota Bogor 2022 Jadi MC Kegiatan Menteri
Kitab Turots juga bisa disebut model literasi yang dimiliki oleh peradaban islam. Menyelami turats tidak akan selesai dalam kehanyutan. Karena terdiri dari berbagai disiplin ilmu yang semuanya berhulu untuk memahami Al Quran dan Sunah.
Artikel Terkait
Geger! Wulan Guritno Open BO, Alasannya Bikin Penasaran
Jadwal Waktu Shalat untuk Wilayah Cianjur dan Sekitarnya
Gila...Pria Tua Sengaja Menginjak Bendera Merah Putih, Warganet Geram !
Tanamkan Karakter Islami, BKPRMI Cianjur Laksanakan Peragaan Manasik Haji
Panaskan Mesin Politik, PPP Konsolidasi Jelang Pileg 2024
Negara-Negara Tarik Bantuan dari Turki, Lantaran Situasi Tidak Aman
Pedestrian Cianjur di Jalan Siliwangi, Habiskan Dana Ratusan Juta Rupiah
Islamophobia di Eropa dan Amerika
Duta Genre Kota Bogor 2022 Jadi MC Kegiatan Menteri
Gas Elpiji Mahal, JIM dan Aliansi Mahasiswa Tolak Kenaikan LPG Kabupaten Cianjur