Ia memahami kultur Partai Golkar sekaligus mengerti bahwa politik hari ini menuntut komunikasi yang lebih terbuka, kolaboratif, dan dekat dengan generasi muda. Dukungan dari AMPI dan Kosgoro 1957 menunjukkan bahwa pencalonannya lahir dari keyakinan banyak kader terhadap kapasitasnya memimpin.
Partai besar bukanlah partai yang terus bergantung pada figur lama, melainkan partai yang berani melahirkan pemimpin baru. Regenerasi tidak berarti menggeser peran senior, tetapi menyambung estafet kepemimpinan dengan semangat relevan dengan tantangan zaman.
Jika Golkar Cianjur ingin membuktikan bahwa regenerasi bukan sekadar wacana, maka sulit mengabaikan satu nama yang hari ini tumbuh bersama harapan banyak kader. Barangkali, saat regenerasi benar-benar menemukan namanya, nama itu adalah Isfhan Taufik Munggaran.
Artikel Terkait
Generasi Baru, Pro Kemanusiaan dan Keadilan Menang
Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak
Empat Pilar Harus Ditanamkan Sejak Dini
Fasilitasi Warga Berhijrah, BAZNAS Jabar Buka Layanan Hapus Tato Gratis di Kabupaten Bandung
Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)
Kerendahan Hati: Syarat Utama Kepemimpinan dan Jalan Kearifan
Warganet Keluhkan Layanan Darurat 110 Polri: Respons Lamban hingga Terdengar Suara Sendawa
Menkeu Purbaya Puji Ketajaman Presiden Prabowo dalam Diskusi APBN: Orangnya Pintar, Jangan Takut!
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Mengisi Liburan dengan Aktivitas Positif Bersama Anak Cucu (Bagian 44)
Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)