Seni Berhati-hati: Mengapa Berfatwa Tak Boleh Sembarangan?

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 15 Mei 2026 | 15:28 WIB
Ilustrasi fatwa
Ilustrasi fatwa

Sebagai penutup, kehati-hatian dalam berfatwa adalah cerminan dari ketakwaan dan kejujuran ilmiah. Dengan mengikuti arahan para ulama seperti Syaikh Hasan Hitou, kita diajak untuk lebih bijak dalam bersikap: bertanya kepada ahlinya dan tidak lancang menyebarkan hukum yang belum tentu sesuai dengan konteksnya. Semoga semangat keilmuan yang penuh kehati-hatian ini senantiasa menjaga umat dari kesesatan dan membawa rahmat bagi semua.

Wallahu A'lam

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB
X