Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, di negeri yang riuh menyebut nama Tuhan, agama hidup di mana-mana: di rumah ibadah, di layar politik, di ruang simbolik kesalehan. Namun di tengah kelimpahan itu, agama miskin daya ubah.
Ia ramai sebagai ritual, tapi lemah sebagai kekuatan peradaban. Ia dipelihara sebagai identitas, tapi kehilangan keberanian intelektual; diagungkan sebagai kemuliaan, tapi gagal menyalakan daya cipta.
Padahal sejarah menunjukkan: agama pernah menjadi tenaga penggerak peradaban. Rachel M. McCleary & Robert J. Barro menunjukkan bahwa keyakinan keagamaan membentuk disiplin, etika kerja, tradisi literasi, dan jaringan kepercayaan sosial fondasi penting bagi kemajuan,
Benjamin M. Friedman menunjukkan bahwa kapitalisme modern tidak lahir sepenuhnya dari ruang sekuler.
Perkembangan ekonomi modern dimulai dari perubahan cara memaknai hidup, dipicu pergulatan teologis, yang menjadikan kerja sebagai panggilan moral, disiplin sebagai kebajikan, dan kemajuan sebagai tanggung jawab spiritual.
Namun di Indonesia hari ini, agama lebih marak sebagai seremoni daripada tenaga transformasi peradaban.
Kita rajin membangun rumah ibadah, tetapi malas membangun tradisi ilmu. Kita fasih menghafal ayat, tetapi gagap mengubahnya menjadi etika publik. Kita memuliakan simbol Tuhan, tetapi membiarkan korupsi merajalela.
Ormas-ormas keagamaan yang dahulu lahir sebagai gerakan pembebasan sosial perlahan terjebak dalam kenyamanan kelembagaan.
Mereka sibuk merawat struktur, tetapi kehilangan keberanian mengguncang kebekuan. Mimbar lebih sering menjadi panggung legitimasi politik ketimbang pengobar nurani.
Ketika agama kehilangan daya kritisnya, ia berubah menjadi seremoni yang jinak: khusyuk di rumah ibadah, tetapi lumpuh menghadapi ketimpangan, kerakusan, dan kerusakan moral.
Barangkali problem terbesar kita bukan kurang religius, melainkan terlalu lama memenjarakan agama sebagai ritual formal. Kita sibuk mengurus surga, tetapi lupa membiarkannya bekerja di bumi.
Sebab iman yang sejati tidak berhenti di bibir dan upacara; ia menjelma keberanian moral yang menggerakkan peradaban. Jika tidak, agama hanya menjadi gema: terdengar keras, tetapi kehilangan elan vital.
Artikel Terkait
Gandeng Brand Kecantikan, Serikat Pekerja Nasional PT Pou Yuen Gelar Pelatihan Rias Gratis
Jelang Idul Adha, DKM Al-Muhajirin Pepabri Gunteng Cianjur Menerima Hewan Qurban
Mutiara Pagi: Belajar Mendengar (Bagian 2204)
Mengukur Kompetensi Calon Nakhoda Zakat, Puluhan Peserta Jalani Uji Dasar BAZNAS Cianjur
Refleksi Ketua BAZNAS Cianjur di Tengah Seleksi: Harapan untuk Pemimpin Baru dan PR Zakat Mal
Rupiah Tembus Rp17.433 per Dollar AS, BEM PTNU Se-Nusantara Sebut sebagai Alarm Kegagalan Pemerintah
Mutiara Pagi: Pangeran Hukum (Bagian 2205)
LPPTKA BKPRMI Kecamatan Cianjur Konsisten Cetak Generasi Qur’ani Melalui Munaqosah TPQ
Mutiara Pagi: Lupa (Bagian 2206)
Grand Aston Puncak Tawarkan Promo Menginap Hemat Sunday Monday Shocking Deal Mulai Rp 899 Ribu