Madat Agama

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 11 Mei 2026 | 14:17 WIB
Program CSR SKI–Promedia hadirkan hunian lebih aman, sejuk, dan sehat bagi wartawan di Kemayoran (Dok. Promedia)
Program CSR SKI–Promedia hadirkan hunian lebih aman, sejuk, dan sehat bagi wartawan di Kemayoran (Dok. Promedia)

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, di negeri yang riuh menyebut nama Tuhan, agama hidup di mana-mana: di rumah ibadah, di layar politik, di ruang simbolik kesalehan. Namun di tengah kelimpahan itu, agama miskin daya ubah.

Ia ramai sebagai ritual, tapi lemah sebagai kekuatan peradaban. Ia dipelihara sebagai identitas, tapi kehilangan keberanian intelektual; diagungkan sebagai kemuliaan, tapi gagal menyalakan daya cipta.

Padahal sejarah menunjukkan: agama pernah menjadi tenaga penggerak peradaban. Rachel M. McCleary & Robert J. Barro menunjukkan bahwa keyakinan keagamaan membentuk disiplin, etika kerja, tradisi literasi, dan jaringan kepercayaan sosial fondasi penting bagi kemajuan,

Benjamin M. Friedman menunjukkan bahwa kapitalisme modern tidak lahir sepenuhnya dari ruang sekuler.

Perkembangan ekonomi modern dimulai dari perubahan cara memaknai hidup, dipicu pergulatan teologis, yang menjadikan kerja sebagai panggilan moral, disiplin sebagai kebajikan, dan kemajuan sebagai tanggung jawab spiritual.

Namun di Indonesia hari ini, agama lebih marak sebagai seremoni daripada tenaga transformasi peradaban.

Kita rajin membangun rumah ibadah, tetapi malas membangun tradisi ilmu. Kita fasih menghafal ayat, tetapi gagap mengubahnya menjadi etika publik. Kita memuliakan simbol Tuhan, tetapi membiarkan korupsi merajalela.

Ormas-ormas keagamaan yang dahulu lahir sebagai gerakan pembebasan sosial perlahan terjebak dalam kenyamanan kelembagaan.

Mereka sibuk merawat struktur, tetapi kehilangan keberanian mengguncang kebekuan. Mimbar lebih sering menjadi panggung legitimasi politik ketimbang pengobar nurani.

Ketika agama kehilangan daya kritisnya, ia berubah menjadi seremoni yang jinak: khusyuk di rumah ibadah, tetapi lumpuh menghadapi ketimpangan, kerakusan, dan kerusakan moral.

Barangkali problem terbesar kita bukan kurang religius, melainkan terlalu lama memenjarakan agama sebagai ritual formal. Kita sibuk mengurus surga, tetapi lupa membiarkannya bekerja di bumi.

Sebab iman yang sejati tidak berhenti di bibir dan upacara; ia menjelma keberanian moral yang menggerakkan peradaban. Jika tidak, agama hanya menjadi gema: terdengar keras, tetapi kehilangan elan vital.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X