Emansipasi Kartini di Era Globalisasi

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 21 April 2026 | 13:33 WIB
Unang Margana
Unang Margana

Oleh : Unang Margana*

Setiap tanggal 21 April, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, dengan ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang" yang sangat terkenal dari Raden Ajeng Kartini, yang juga menjadi judul kumpulan surat-suratnya (dalam bahasa Belanda: Door Duisternis tot Licht), yang dikirim kepada sahabat-sahabatnya di Eropa.

Semangat emansipasi perempuan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan Raden Ajeng Kartini (Jawa Tengah). Sosoknya menjadi simbol kebangkitan perempuan untuk memperoleh hak pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan dalam kehidupan sosial. Di era globalisasi yang serba cepat dan terbuka, nilai-nilai perjuangan Kartini tidak hanya relevan, tetapi juga menghadapi tantangan baru yang lebih kompleks. Globalisasi membawa peluang besar bagi perempuan, namun juga menghadirkan tekanan sosial, budaya, dan ekonomi yang membutuhkan kesiapan serta kesadaran kritis.

Sejarah Perjuangan Kartini

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, perempuan di Indonesia, khususnya di Jawa, hidup dalam keterbatasan akses pendidikan dan ruang publik. Kartini, yang lahir dari keluarga priyayi, menyaksikan langsung ketimpangan tersebut. Melalui pemikirannya, Kartini menyoroti pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai kunci kemajuan bangsa.

Kartini menolak anggapan bahwa perempuan hanya berperan di ranah domestik. Ia memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, berpikir mandiri, dan berkontribusi dalam masyarakat. Setelah wafatnya, gagasan Kartini terus hidup dan menginspirasi lahirnya berbagai gerakan perempuan di Indonesia. Emansipasi yang ia perjuangkan bukan sekadar kesetaraan formal, melainkan juga perubahan cara pandang terhadap peran perempuan dalam kehidupan sosial.

Tokoh Perempuan Inspiratif dalam Emansipasi

Selain Kartini, terdapat sejumlah tokoh perempuan yang turut memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan, baik di Indonesia maupun dunia. Di Indonesia, Raden Dewi Sartika (Jawa Barat) dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan di tanah Sunda. Ia mendirikan sekolah khusus perempuan yang membuka akses pendidikan bagi kaum wanita pada masa kolonial. Ada pula Rasuna Said (Sumatra Barat), seorang pejuang yang vokal menyuarakan hak perempuan dan kemerdekaan Indonesia melalui pidato-pidatonya yang berani. Ada juga sosok Megawati Soeķarno Putri, Presiden perempuan pertama Indonesia (2001–2004). Secara historis, ini pencapaian besar dalam konteks emansipasi, karena membuktikan bahwa perempuan dapat mencapai posisi politik tertinggi di negara yang sebelumnya sangat didominasi laki-laki.

Dari dunia internasional, Malala Yousafzai (peraih Nobel dari Pakistan) menjadi simbol perjuangan pendidikan perempuan di era modern. Ia memperjuangkan hak anak perempuan untuk bersekolah meskipun menghadapi ancaman besar. Selain itu, Michelle Obama (Amerika Serikat) juga dikenal aktif mendorong pendidikan dan pemberdayaan perempuan melalui berbagai program global. Kehadiran tokoh-tokoh ini menunjukkan bahwa perjuangan emansipasi tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus berlanjut dengan konteks dan tantangan yang berbeda.

Tantangan di Era Globalisasi

Memasuki era globalisasi, perempuan Indonesia memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap pendidikan, pekerjaan, dan informasi. Teknologi digital membuka peluang bagi perempuan untuk berkarya, berwirausaha, dan menyuarakan pendapat. Namun, kemajuan ini juga membawa tantangan yang tidak sederhana.

Pertama, masih adanya ketimpangan gender dalam dunia kerja. Meskipun kesempatan semakin terbuka, perempuan sering menghadapi diskriminasi dalam bentuk kesenjangan upah, keterbatasan akses pada posisi kepemimpinan, serta stereotip yang melekat pada peran gender.

Kedua, tekanan sosial dan budaya yang terus berkembang. Globalisasi seringkali membawa standar baru yang memengaruhi cara pandang terhadap perempuan, baik dalam hal penampilan, gaya hidup, maupun peran sosial. Hal ini dapat menimbulkan konflik antara nilai tradisional dan modernitas.

Ketiga, tantangan di ruang digital. Perempuan kini aktif di media sosial dan platform digital lainnya, tetapi juga rentan terhadap kekerasan berbasis gender secara online, seperti pelecehan dan perundungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa perjuangan emansipasi belum sepenuhnya selesai, melainkan berubah bentuk sesuai perkembangan zaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB
X