Oleh: Taupik Rohmansyah, mengajar di SMPN 1 Cijati Cianjur
Prolog
Peringatan akan gagasan RA Kartini bukan sekadar tentang seremoni busana adat, melainkan tentang menghidupkan kembali api perjuangan menuju kesetaraan akses dan martabat.
Di lingkungan sekolah, terutama pada tingkat sekolah menengah, sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan laboratorium sosial tempat relasi kemanusiaan dibangun.
Membangun relasi positif yang berbasis kesetaraan gender adalah fondasi utama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, progresif, dan berkeadilan.
Momen hari Kartini ini bisa dijadikan ajang refleksi mengenai bagaimana kita dapat memperkuat posisi perempuan melalui relasi di sekolah.
Pertama, terjalinnya sinergi Guru Laki-Laki dan Perempuan, yaitu bahwa kemitraan strategis Guru adalah kompas moral bagi siswa.
Relasi antara guru laki-laki dan perempuan harus dibangun di atas asas kemitraan (partnership), bukan persaingan atau subordinasi. Hal ini bisa di lakukan melalui beberapa perilaku yaitu kepemimpinan bersama yang akan memberikan kesempatan sama bagi guru perempuan untuk mengambil peran strategis dan pengambilan kebijakan di sekolah.
Kemudian menggelorakan upaya penghapusan stigma melalui penghindaran pembagian tugas berdasarkan gender (misalnya: guru perempuan selalu di bagian konsumsi, laki-laki di bagian keamanan). Kerja sama yang cair menunjukkan kepada siswa bahwa kompetensi tidak mengenal jenis kelamin.
Kedua, relasi antara guru perempuan dan anak perempuan yaitu sebagai mentor dan role model. Relasi ini adalah kunci penguatan kepercayaan diri siswi. Guru perempuan berperan sebagai jembatan yang meyakinkan anak didik perempuan bahwa mimpi mereka tidak memiliki batas.
Guru perempuan sebagai pembuka ruang aman (Safe Space) melalui penciptaan dialog yang terbuka mengenai tantangan yang dihadapi perempuan di masyarakat, sehingga siswi merasa didukung dan dipahami.
Selanjutnya, guru perempuan sebagai inspirator tanpa batas yaitu mendorong anak perempuan untuk mengeksplorasi bidang yang sering dianggap "maskulin", seperti sains, teknologi, maupun kepemimpinan organisasi.
Ketiga, relasi antara guru perempuan dan anak laki-laki, yaitu keharusan membangun sespek. Interaksi ini sangat krusial dalam membentuk cara pandang siswa laki-laki terhadap perempuan di masa depan.
Hal ini diyakini akan mampu membangun semangat otoritatif siswa laki laki berbasis intelektualitas, dimana disaat siswa laki-laki melihat guru perempuan sebagai sosok yang cerdas, tegas, dan berwibawa, mereka belajar untuk menghormati perempuan sebagai rekan setara di masyarakat.
Selanjutnya menggairahkan edukasi empati, yaitu guru perempuan dapat mengajarkan nilai-nilai kelembutan dan empati sebagai kekuatan, bukan kelemahan, kepada siswa laki-laki.
Artikel Terkait
Menanti Nyali Pemkab Cianjur Menindaklanjuti Rekomendasi LKPJ
Menakar Konsistensi DPRD Cianjur dalam Mengembalikan Marwah Pengawasan
Polisi Bongkar Modus Peredaran Sabu Setengah Kilogram di Cianjur
Pendaftaran Calon Pimpinan BAZNAS Cianjur Minim Peminat
Perkuat Akar Rumput, PDI Perjuangan Cianjur Targetkan Pembentukan Pengurus Hingga Tingkat RW Rampung Mei
Tim Muda SSB Paster Junior Asal Cianjur Raih Posisi Runner Up di Liga Jabar Istimewa 2026
Koperasi Merah Putih: Pilar Kemandirian Ekonomi Rakyat atau Sekadar Proyek Besar?
Legislasi Cianjur Memanas, Fraksi DPRD Soroti Substansi Lima Raperda Strategis
Siswa SMKN 1 Cipanas Cianjur Unjuk Keahlian Olah Hasil Pertanian dalam Uji Kompetensi 2026
PDI Perjuangan Cianjur Suarakan Hak Digital dan Kesejahteraan Perempuan di Hari Kartini 2026