Menenun Kesetaraan di Ruang Kelas: Menghidupkan Spirit Kartini dalam Relasi Sekolah

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 21 April 2026 | 13:30 WIB
Siswi SMPN 1 Cijati Cianjur. (FOTO: Ist)
Siswi SMPN 1 Cijati Cianjur. (FOTO: Ist)

Oleh: Taupik Rohmansyah, mengajar di SMPN 1 Cijati Cianjur

Prolog
Peringatan akan gagasan RA Kartini bukan sekadar tentang seremoni busana adat, melainkan tentang menghidupkan kembali api perjuangan menuju kesetaraan akses dan martabat.

Di lingkungan sekolah, terutama pada tingkat sekolah menengah, sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan laboratorium sosial tempat relasi kemanusiaan dibangun.

Membangun relasi positif yang berbasis kesetaraan gender adalah fondasi utama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, progresif, dan berkeadilan.

Momen hari Kartini ini bisa dijadikan ajang refleksi mengenai bagaimana kita dapat memperkuat posisi perempuan melalui relasi di sekolah.

Pertama, terjalinnya sinergi Guru Laki-Laki dan Perempuan, yaitu bahwa kemitraan strategis Guru adalah kompas moral bagi siswa.

Relasi antara guru laki-laki dan perempuan harus dibangun di atas asas kemitraan (partnership), bukan persaingan atau subordinasi. Hal ini bisa di lakukan melalui beberapa perilaku yaitu kepemimpinan bersama yang akan memberikan kesempatan sama bagi guru perempuan untuk mengambil peran strategis dan pengambilan kebijakan di sekolah.

Kemudian menggelorakan upaya penghapusan stigma melalui penghindaran pembagian tugas berdasarkan gender (misalnya: guru perempuan selalu di bagian konsumsi, laki-laki di bagian keamanan). Kerja sama yang cair menunjukkan kepada siswa bahwa kompetensi tidak mengenal jenis kelamin.

Kedua, relasi antara guru perempuan dan anak perempuan yaitu sebagai mentor dan role model. Relasi ini adalah kunci penguatan kepercayaan diri siswi. Guru perempuan berperan sebagai jembatan yang meyakinkan anak didik perempuan bahwa mimpi mereka tidak memiliki batas.

Guru perempuan sebagai pembuka ruang aman (Safe Space) melalui penciptaan dialog yang terbuka mengenai tantangan yang dihadapi perempuan di masyarakat, sehingga siswi merasa didukung dan dipahami.

Selanjutnya, guru perempuan sebagai inspirator tanpa batas yaitu mendorong anak perempuan untuk mengeksplorasi bidang yang sering dianggap "maskulin", seperti sains, teknologi, maupun kepemimpinan organisasi.

Ketiga, relasi antara guru perempuan dan anak laki-laki, yaitu keharusan membangun sespek. Interaksi ini sangat krusial dalam membentuk cara pandang siswa laki-laki terhadap perempuan di masa depan.

Hal ini diyakini akan mampu membangun semangat otoritatif siswa laki laki berbasis intelektualitas, dimana disaat siswa laki-laki melihat guru perempuan sebagai sosok yang cerdas, tegas, dan berwibawa, mereka belajar untuk menghormati perempuan sebagai rekan setara di masyarakat.

Selanjutnya menggairahkan edukasi empati, yaitu guru perempuan dapat mengajarkan nilai-nilai kelembutan dan empati sebagai kekuatan, bukan kelemahan, kepada siswa laki-laki.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB
X