Mutiara Pagi: Sembilan Tiada Sepuluhnya (Bagian 2172)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 7 April 2026 | 06:55 WIB
Kafe di Blitar ini bikin betah berlama-lama karena suasananya adem di tengah pepohonan.  ((tangkapan layar/TikTok @sunshine))
Kafe di Blitar ini bikin betah berlama-lama karena suasananya adem di tengah pepohonan. ((tangkapan layar/TikTok @sunshine))


(Renungan Batin Yazid al-Bustomy)

Sembilan tiada sepuluhnya
adalah cermin bagi manusia
agar menyadari siapa dirinya
di hadapan Sang Pencipta

ada sebuah peringatan keras
Yazid Al-Bustomy menjawab dengan jelas
tentang kisah sembilan anak manusia
kaumTsamud itu namanya

kaum yang maju secara teknologi
namun ajaran tauhid mereka ingkari
sehingga peradaban yang ada
tidak bermanfaat bagi mereka

meski kuat secara fisik
tapi runtuh karena moral tidak baik
sehingga kehilangan arah spiritual
peradaban hancur karena rusaknya moral

bukan dilakukan orang-orang biasa
melainkan anak bangsawan yang berkuasa
mereka berbuat kerusakan
sehingga lupa untuk berbuat kebaikan

sebagai anak bangsa
di manakah kita berada
kelompok orang yang menjaga
ataukah merusak negara yang ada

merayap tanpa suara
mengikuti bisik hati nurani
ataukah bertindak semaunya
sesuai ajakan nafsunya sendiri

Malang, 7 April 2026
Salam sehat,

M. Sinal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X