Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, kota-kota ketidakbahagiaan bersitumbuh di tengah gebyar kemajuan. Kehidupan metropolitan dilimpahi kesepian, namun miskin keheningan. Kesepian menandakan kerapuhan, sedang keheningan memancarkan keteguhan.
Di tengah gejolak perang, kesewenang-wenangan kekuasaan, serta krisis global dari ketimpangan hingga krisis ekologis dunia kian bising oleh ketakutan, tetapi miskin perenungan.
Untuk pemulihan, kita perlu mengkhidmati keheningan. Jalaluddin Rumi berkata, “Hening adalah lautan. Ucapan adalah sungai. Saat lautan mencarimu, jangan melangkah ke sungai. Dengarkanlah lautan.”
Keheningan adalah relung pemurnian jiwa. Dalam hening, rohani menyuling inspirasi dan memulihkan daya cipta; tanpa keheningan agung, tak lahir karya agung.
Keheningan inilah yang patut dihadirkan dalam momen Tri Hari Suci ritus reflektif mengenang jalan sunyi pengorbanan: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Di sinilah makna substantif Paskah menjadi relevan bagi dunia dan Indonesia: di tengah kerakusan, penyimpangan, kerawanan dan gemuruh kekacauan, kebangkitan tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari keberanian memasuki keheningan batin.
Kebangkitan bukan sekadar peristiwa iman, tetapi panggilan etis untuk memulihkan kehidupan menyalakan harapan, merawat persaudaraan, dan membangun kembali kepercayaan dalam kehidupan berbangsa.
Dalam kemajemukan Indonesia, Paskah menegaskan bahwa pengorbanan tulus melahirkan rekonsiliasi, dan keheningan membuka empati lintas iman.
Dalam hening kepasrahan, kebenaran Ilahi didekati dan memantik misi perawatan yang berujung pada perdamaian.
Mother Teresa berkata, “Buah keheningan adalah doa; buah doa, iman; buah iman, kasih; buah kasih, pelayanan; buah pelayanan, perdamaian.”
Setiap pembebasan lahir dari latihan sunyi. Jalan batin itulah yang memadukan iman dan pengorbanan seperti Yesus Kristus yang menempuh sunyi penyaliban.
Dari jalan hening pengorbanan, semoga lahir kekuatan dan kebaruan. Seperti kata Carl Gustav Jung, ”Hanyalah dengan misteri pengorbanan diri, seseorang bisa mengalami kelahiran baru.”
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Lima Tiada Enamnya (Bagian 2168)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Hujan Berkah (Bagian 33)
Taktik Serangan Balik Sepakbola
Mutiara Pagi: Enam Tiada Tujuhnya (Bagian 2169)
Perbedaan Haji dan Umrah
Menghindari Kemacetan Puncak
Mencerna Makanan Saat Sakit
Targetkan 1.000 Masjid, LTM PCNU & MWCNU Sukanagara Gelar Pelatihan Manajemen Masjid se-Desa Gunungsari
Gerakan Pemuda Ansor dan MWC NU Karangtengah Perkuat Sinergi Hadapi Tantangan Zaman
Perkuat Tata Kelola Zakat, LAZISNU Cianjur Gelar Bimtek di Sukanagara