AS dan Israel Dibangun dengan Sejarah yang Sama

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 6 April 2026 | 06:32 WIB
Peta Timur Tengah, wilayah dimana terletak segitiga akhir zaman
Peta Timur Tengah, wilayah dimana terletak segitiga akhir zaman

Sumber: FB Hisnindarsyah Dokter

AS dan Israel itu sama. Negeri AS dibangun dari perampasan tanah orang-orang Indian. Suku Siox, Apache, Ogalalah dan ribuan suku Indian lain dibunuh dan disingkirkan. Film-film cowboy jadul Hollywood menggambarkan orang Indian sebagai bangsa barbar, perampok, dan penyerang keluarga kulit putih.

Padahal orang-orang Indian itu sedang memerangi pendatang yang seenaknya menduduki tanah mereka. Israel juga dibangun di atas tanah orang Palestina. Orang-orang dari seluruh Eropa didatangkan dan diperbolehkan merampas tanah yang menjadi lahan hidup warga Palestina.

Rumah, tanah pertanian, dan tempat usaha yang selama ini milik warga Palestina diduduki begitu saja, dibuldoser, lalu dihancurkan untuk dibangun pemukiman baru Israel. Ketika warga Palestina melawan karena hak hidupnya diduduki pendatang, mereka dituding teroris, perampok, dan kaum barbar. Persis dengan stempel yang dikenakan AS pada suku Indian.

Untuk menutupi kekejiannya, zionis memanipulasi doktrin kitab suci agar semua kebiadaban mereka mendapat pembenaran agama. Orang-orang polos pun mempercayai doktrin aneh itu. Mereka percaya tuhan bersikap rasis dengan adanya bangsa pilihan dan non-pilihan, serta menilai manusia berdasarkan ras bukan perilaku. Bahkan mereka percaya tuhan berperan sebagai makelar tanah.

Warga Palestina yang muslim, Yahudi, maupun Kristen semuanya ingin diusir dari tanahnya. Mereka diganti oleh orang yang kebanyakan didatangkan dari Eropa atas nama zionis Israel. Sebetulnya sejarah yang mirip juga terjadi di Australia terhadap suku Aborigin dan di New Zealand terhadap suku Maori.

Ratusan tahun dunia diam dan pendudukan seperti ini dianggap biasa. Bangsa yang maju seolah berhak merampas hak hidup bangsa yang terbelakang. Hal ini berlangsung sampai PBB menerapkan batas-batas negara modern dan mengatur hukum internasional bahwa sebuah negara tidak berhak menyerang negara lain tanpa sebab.

Tapi bangsa yang pongah menganggap hukum internasional hanyalah tisu toilet. Puluhan resolusi PBB yang meminta Israel berhenti membunuhi warga sipil Palestina diabaikan. Terakhir, Israel dengan bangga membunuhi 60 ribu anak di Gaza, seperti dulu AS membunuhi anak-anak Indian.

Trump bahkan terang-terangan tidak mengakui hukum internasional dan bertindak semaunya sendiri. Ia menyatakan bahwa ukuran hukum adalah moralitasnya sendiri. Mereka sepongah itu karena militernya kuat dan sistem ekonominya mencengkram dunia. Negara-negara lain memilih diam atau bermesraan dengan mereka ketimbang jadi sasaran keserakahan.

Negara-negara teluk memilih jalan bertekuk lutut dan belakangan Indonesia tampak mau ikut-ikutan. Harapan mereka hanya satu, yaitu kekuasaannya tidak diganggu dan mereka rela membayar biaya mahal untuk tujuan itu. Tapi ada satu duri bagi AS dan Israel untuk berbuat semaunya di dunia, yaitu Iran.

Iran lebih memilih melawan ketimbang jadi kacung penjajah. Suku Indian boleh dimusnahkan AS, suku Aborigin dan Maori bisa disingkirkan, tapi saat Israel mau bertindak sama pada rakyat Palestina, tidak semudah itu. Sejak berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979, mereka sudah mengumandangkan bantuan untuk rakyat Palestina.

Imam Khomeini selaku bapak revolusi Islam Iran sejak 1980 sudah mengumandangkan hari Al Quds setiap Jumat terakhir Ramadhan. Seruannya jelas untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Bukan hanya karena alasan agama atau suku Arab, tapi karena memang harus ada yang menyetop keberingasan AS dan Israel sebagai musuh kemanusiaan.

Iran di tengah keterbatasannya sedang memilih peran sejarah itu dan kita semua menjadi saksinya.

Portland International Airport

Artikel Selanjutnya

Menghindari Kemacetan Puncak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X