Ritual “Self Reward” atau Jebakan Hasrat?

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:58 WIB
Ritual “Self Reward” atau jebakan hasrat?
Ritual “Self Reward” atau jebakan hasrat?

Dalam topologi Lacanian, The Real merepresentasikan dimensi realitas yang tidak tertampung oleh bahasa maupun imajinasi adalah sebuah wilayah traumatis yang mengingkatkan subjek akan kenyataan pahit bahwa eksistensi manusia pada dasarnya bersifat fragmentaris dan tidak pernah mencapai keutuhan.

Aktivitas belanja bulanan, dalam konteks ini berfungsi sebagai upaya subjek untuk melakukan pelarian dari konfrontasi langsung dengan ketunggalan makna yang hampa dan menyakitkan tersebut.

Secara teoritis, manusia modern cenderung menggunakan perolehan barang-barang baru sebagai insturmen distraksi yang bersifat anestetik. Komoditas berperan sebagai tabir yang menutupi lubang menganga di pusat keberadaan subjek.

Ketika seseorang melakukan transaksi ekonomi untuk memiliki objek keinginan, sebenarnya sedang berusaha mengalihkan perhatiannya dari kekosongan eksistensial yang inheren dalam dirinya.

Kekosongan ini bukanlah sebuah konsidi medis, melainkan prasyarat ontologis dari keberadaan manusia sebagai makhluk yang berbahasa. Namun, karena menghadapi kekosongan tersebut secara terus-menerus dapat memicu kecemasan yang meluap, subjek memerlukan “objek pengganti” untuk menciptakan ilusi bahwa kehidupan dapat diisi dan disempurnakan.

Setiap barang baru yang dibeli membawa janji semu tentang pemulihan kepuasan yang hilang. Namun, karena barang tersebut berada di tatanan material dan imajiner, ia tidak akan pernah bisa benar-benar menjangkau atau menyelesaikan persoalan di tatanan The Real.

Akibatnya, distraksi yang ditawarkan oleh barang belanjaan hanya bertahan untuk sementara waktu. Segera setelah pesona kebaruan objek tersebut memudar, subjek kembali dihadapkan pada kekosongan yang sama, yang kemudian memicu siklus belanja berikutnya sebagai upaya repetitive untuk mempertahankan jarak aman dari The Real.

Dengan demikian, ritual belanja bulanan bukan sekadar perilaku ekonomi, melainkan sebuah strategi eksistensial untuk memediasi pertemuan subjek dengan kenyataan bahwa hidup, dalam esensinya yang paling radikal, memang tidak pernah utuh dan selalu ditandai oleh kekurangan yang tak terhindarkan.

Kesimpulan

Dalam lanskap psikologi konsumen kontemporer, dorongan repetitif untuk mengakuisisi komoditas baru setiap bulan tidak dapat dipandang secara reduksionis hanya sebagai persoalan manajemen finansial atau dampak superfisial dari budaya konsumerisme.

Fenomena ini merupakan manifestasi dari dinamika internal subjek dalam menegosiasikan ketidakmungkinan mencapai perasaan utuh atau "kepenuhan" ontologis.

Mengacu pada kerangka pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan, hasrat manusia secara inheren bersifat metonimik, ia merupakan mesin penggerak kehidupan yang tidak memiliki titik henti final.

Hasrat tidak dirancang untuk terpuaskan, melainkan untuk terus memproduksi dirinya sendiri agar subjek tetap eksis dalam tatanan keinginan. Memahami perilaku konsumtif melalui kacamata Lacanian berarti mengakui bahwa setiap barang yang dibeli hanyalah berfungsi sebagai objet petit a (objek penyebab hasrat).

Objek ini bukanlah tujuan akhir dari pencarian kebahagiaan, melainkan sekadar "umpan" yang menjanjikan kepuasan yang secara struktural selalu meleset dari sasarannya.

Dengan menginternalisasi kesadaran teoretis ini, bahwa tidak ada satu pun komoditas material yang mampu memberikan kepuasan absolut, subjek dapat mulai membangun jarak kritis terhadap dorongan keinginannya sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X