Dari High Heels ke Apron: Narasi Career Woman To Housewife

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 10 Januari 2026 | 15:48 WIB
Novira Sabrina, Mahasiswa Magister Universitas Bakrie
Novira Sabrina, Mahasiswa Magister Universitas Bakrie

Oleh: Novira Sabrina (Mahasiswa Magister Universitas Bakrie)

Fenomena transisi wanita karier menjadi ibu rumah tangga (IRT) bukan sekadar perpindahan ruang aktivitas, melainkan sebuah dekonstruksi identitas yang kompleks di tengah kepungan budaya populer.

Di era digital, wanita sering kali terjepit di antara dua narasi ekstrem: citra Girlboss yang ambisius dan tren Tradwife yang meromantisasi domestikasi. Perjuangan ini mencakup aspek psikologis, sosiologis, hingga ekonomi yang sering kali tidak terlihat di permukaan media sosial.

1. Konstruksi Media dan Mitos Kesempurnaan

Budaya populer memiliki peran ganda dalam membentuk persepsi publik terhadap peran wanita. Sejak era 1990-an, media mengonstruksi mitos "Having It All", sebuah gagasan bahwa wanita modern dapat memiliki karier cemerlang sekaligus kehidupan rumah tangga yang sempurna secara bersamaan. Namun, narasi ini sering kali menjadi bumerang, menciptakan beban ganda (double burden) bagi wanita.

Ketika seorang wanita karier akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja, media cenderung membingkainya dalam dua kutub: sebuah "kemenangan moral" karena kembali ke keluarga, atau sebuah "kegagalan profesional".

Stigmatisasi ini berakar pada nilai kapitalisme yang mengukur harga diri manusia berdasarkan produktivitas finansialnya. Akibatnya, IRT sering kali dianggap tidak produktif karena pekerjaan domestik tidak menghasilkan upah (non-moneter).

2. Tinjauan Teoritis: Mengapa Mereka Memilih Mundur?

Secara sosiologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa teori utama:

The Second Shift (Arlie Hochschild): Wanita yang bekerja tetap memikul tanggung jawab domestik yang jauh lebih besar daripada pasangan mereka. Kelelahan kronis (burnout) akibat "shift kedua" di rumah menjadi faktor pendorong utama wanita meninggalkan karier.

The Feminine Mystique (Betty Friedan): Meskipun awalnya membahas hampa diri IRT tahun 60-an, teori ini kini berbalik: wanita modern merasa hampa di dunia kerja yang maskulin dan mencari makna kembali di ruang domestik, namun sering kali terbentur pada hilangnya identitas personal.

Ideal Worker Norm: Struktur dunia kerja saat ini menuntut ketersediaan waktu total (24/7). Bagi ibu dengan tanggung jawab pengasuhan, standar ini mustahil dipenuhi tanpa pengorbanan besar, sehingga banyak yang akhirnya melakukan "Opt-Out" atau keluar dari jalur karier.

3. Pengaruh Media Sosial: Estetika vs. Realitas

Media sosial seperti TikTok dan Instagram telah mengubah wajah ibu rumah tangga menjadi sebuah "estetika". Melalui tren Tradwife (Traditional Wife), aktivitas domestik seperti memasak dari nol dan menata rumah ditampilkan dengan visual yang menenangkan dan palet warna pastel. Hal ini memberikan kesan bahwa menjadi IRT adalah gaya hidup yang mewah dan tenang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X