Dari High Heels ke Apron: Narasi Career Woman To Housewife

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 10 Januari 2026 | 15:48 WIB
Novira Sabrina, Mahasiswa Magister Universitas Bakrie
Novira Sabrina, Mahasiswa Magister Universitas Bakrie

Namun, hal ini menciptakan tekanan baru yang disebut "profesionalisasi rumah tangga". Mantan wanita karier sering kali membawa etos kerja kantor ke rumah; mereka merasa harus menjadi "manajer rumah tangga" yang sempurna agar tetap merasa berdaya. Standar estetika ini sering kali menutupi realitas kelelahan fisik dan isolasi sosial yang sebenarnya dialami oleh banyak ibu di rumah.

4. Refleksi dalam Produk Budaya (Film dan Sastra)

Karya seperti Kim Ji-young, Born 1982 menjadi cermin jujur bagi perjuangan ini. Dalam film tersebut, transisi menjadi IRT digambarkan sebagai proses "penghilangan diri". Karakter wanita kehilangan nama dan pencapaiannya, hanya dikenal sebagai "Ibu [Nama Anak]".

Di Indonesia, narasi serupa muncul dalam perdebatan mengenai "Ibu Bangsa", di mana pengorbanan wanita selalu diglorifikasi secara moral, namun jarang didukung secara struktural. Perjuangan nyata bagi mantan profesional adalah melawan rasa "tidak relevan" di mata dunia luar.

5. Realitas Ekonomi: Motherhood Penalty

Satu aspek yang jarang diangkat dalam romantisasi media adalah risiko ekonomi. Secara ekonomi sosiologis, terdapat fenomena Motherhood Wage Penalty.

Wanita yang mengambil jeda karier untuk mengurus anak mengalami penurunan nilai tawar di pasar kerja. Ketika mereka ingin kembali bekerja, mereka sering kali mendapatkan gaji yang lebih rendah dibandingkan rekan sejawat yang tidak mengambil jeda.

Selain itu, ketergantungan finansial sepenuhnya pada pasangan menciptakan kerentanan posisi tawar di dalam rumah tangga, yang bisa berdampak panjang jika terjadi krisis ekonomi keluarga.

6. Krisis Identitas dan Kesehatan Mental

Secara psikologis, transisi dari "Manajer" menjadi "Ibu" memicu krisis identitas yang mendalam. Di kantor, validasi didapatkan melalui gaji, bonus, dan promosi. Di rumah, pekerjaan domestik bersifat repetitif, tidak berbayar, dan sering kali tidak terlihat (invisible labor).

Tanpa komunitas profesional, banyak mantan wanita karier mengalami isolasi sosial dan depresi karena kehilangan ruang untuk aktualisasi diri yang selama ini mereka bangun melalui pendidikan dan pekerjaan.

7. Solusi dan Sintesis: Redefinisi Kemandirian

Untuk mengatasi dilema ini, diperlukan pergeseran paradigma dalam budaya populer dan kebijakan publik:

Redefinisi Produktivitas: Masyarakat harus berhenti memandang pekerjaan domestik sebagai aktivitas kelas dua. Pekerjaan rumah tangga adalah fondasi ekonomi nasional yang selama ini disubsidi oleh pengorbanan wanita.

Dukungan Struktural: Diperlukannya kebijakan yang ramah keluarga, seperti cuti ayah (paternity leave) yang lebih lama, agar beban domestik tidak tertumpu hanya pada wanita. Fleksibilitas kerja dan tempat penitipan anak yang terjangkau dapat mencegah wanita "terpaksa" berhenti bekerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X