Ritual “Self Reward” atau Jebakan Hasrat?

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:58 WIB
Ritual “Self Reward” atau jebakan hasrat?
Ritual “Self Reward” atau jebakan hasrat?

Ketidakpuasan itulah yang sebenarnya dicari oleh hasrat, karena dengan tidak terpenuhinya keinginan secara utuh, saya memiliki alasan untuk terus mencari dan melakukan aktivitas bekanja kembali demi mengejar bayang-bayang kebahagiaan yang selalu berpindah ke objek selanjutnya.

Dalam penelitian mengenai perilaku konsumen yang dipaparkan oleh Astrid Veranita Indah (Indah, 2021), hasrat belanja kita sering kali bukan digerakkan oleh nalar rasional, melainkan oleh proses signifikasi material di alam bawah sadar yang mencoba menutupi ‘lack’ atau kekurangan eksistensi.

Pandangan ini berakar kuat pada pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan, yang memberikan kerangka teoritis untuk memahami mengapa kepuasan yang diperoleh dari kegiatan belanja selalu bersifat afemer atau fana.

Secara logis, keputusan berbelanja didasarkan pada nalar rasional dan kebutuhan fungsional, maka subjek seharusnya mencapai titik kepuasan final setelah barang yang dibutuhkan berhasil di peroleh.

Namun, realitasnya menunjukkan adanya siklus repetitive yang tak berujung. Hal ini dikarenakan apa yang sebenarnya coba “ditambal” oleh konsumen bukanlah kebutuhan fisik, melainkan sebuah lubang ontologis atau perasaan bahwa diri kita tidak pernah benar-benar utuh sebagai manusia. Dalam struktur Lacan, subjek adalah subjek yang terbelah dan selamanya mengalami kekurangan.

Oleh karena itu, barang atau komoditas hanyalah berfungsi sebagai signifier (penanda) yang mencoba memberikan ilusi keutuhan diri. Namun, karena lack tersebut bersifat permanen dan konstitutif terhadap keberadaan manusia, maka produk apa pun yang dibeli tidak akan pernah memberikan kepuasan yang paripurna.

Barang belanjaan hanyalah menjadi tambalan sementara yang gagal menutup celah eksistensial tersebut secara total. Inilah yang menyebabkan munculnya hasrat yang terus-menerus tergeser dari satu objek ke objek yang lainnya.

Sebuah upaya sia-sia untuk mengejar kebahagiaan absolut melalui akumulasi material yang pada akhirnya hanya menyisakan ruang kosong untuk keinginan baru di masa depan. Kegagalan ini justru menjadi prasyarat untuk keinginan baru di masa depan. Kegagalan ini justru menjadi prasyarat agar roda ekonomi dan hasrat manusia tetap berputar.

Tatanan Imajiner dan Cermin Digital
Dalam diskursus psikoanalisis kontemporer, konsep Jacques Lacan mengenai tahap cermin (The Mirror Stage) dapat dieksplorasi kembali melalui lensa media sosual sebagai representasi cermin raksasa dalam tatanan modern.

Dalam konteks ini, aktivitas konsumsi tidak sekadar dipandang sebagai pertukaran ekonomi, melainkan sebagai upaya subjek untuk mengonstruksi “citra diri” ideal di dalam tatanan imajiner. Interkasi subjek dengan antarmuka media sosial, yang secara konstan merefleksikan gaya hidup terkurasi dari figure otoritas imajiner seperti influencer, menciptakan sebuah ruang specular di mana subjek mengalami identifikasi ego.

Melalui layat digital, subjek tidak lagi mempersepsikan dirinya sebagai entitas yang mengalami kelelahan atau kekurangan eksistensial, melainkan sebagai sosok ideal yang mapan dan paripurna melalui kepemilikan komoditas terbaru. Dengan demikian, perilaku belanja repetitive dapat dianalisis sebagai upaya sistematis untuk mengejar dan menyamai pantulan ideal yang terpampang di dalam “cermin” digital tersebut.

Namun, sebagaimana diartikulasikan oleh Lacan dalam Écrits (Lacan, 2006) identifikasi pada tahap cermin in secara inheren bersifat alienatif. Citra yang ditangkap oleh subjek bukanlah representasi diri yang otentik, melainkan sebuah alienasi psikis di mana subjek mengidentikkan dirinya dengan bayangan luar yang menipu.

Meskipun citra tersebut bersifat artifisial, subjek tetap terdorong untuk mengejarnya secara obsesif demi memitigasi rasa tidak aman (insecurity) dan menambal celah kekurangan dalam dirinya. Dalam kerangka akademik, fenomena ini menegaskan bahwa konsumerisme modern merupakan manifestasi dari ketegangan antara realitas subjek yang fragmentasris dan ilusi keutuhan yang ditawarkan oleh Tatanan imajiner.

Menghadapi Realitas: Keluar dari Lingkaran

Fenomena konsumsi repetitive dalam bentuk belanja bulanan dapat dianalisis sebagai sebuah mekanisme pertahanan psikis yang kompleks terhadap apa yang oleh Jacques Lacan diidentifikasi sebagai The Real (Yang Nyata).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X