Ritual “Self Reward” atau Jebakan Hasrat?

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:58 WIB
Ritual “Self Reward” atau jebakan hasrat?
Ritual “Self Reward” atau jebakan hasrat?

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu menengok pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan mengenai Hasrat (Desire). Lacan menarik garis tegas antara “kebutuhan” dan “hasrat”. Kebutuhan, seperti rasa lapar atau haus, bersifat biologis dan dapat dipuaskan sepenuhnya.

Namun, hasrat adalah entitas yang berbeda yang bersifat tak terbatas, tidak pernah benar-benar terpuaskan dan berakar pada “kekurangan” (lack) eksistensial yang permanen dalam diri subjek. Salah satu kutipan Lacan yang paling terkenal adalah “Mans desire is the desire of the Other” (Hasrat manusia adalah hasrat dari yang lain) (Lacan, 1988).

Jacques Lacan berusaha menyingkap sebuah rahasia pahit yang mengguncang pemahaman kita mengenai otonomi diri. Lacan berpendapat bahwa dorongan impulsive yang kita rasakan untuk memiliki barang-barang konsumsi, seperti sepatu bermerek terbaru atau gawai dengan teknologi paling mutakhir, sebenarnya bukanlah manifestasi dari kehendak murni yang lahir dari dalam sanubari kita sendiri.

Lacan menegaskan bahwa apa yang selama ini kita identifikasi sebagai “keinginan pribadi” pada hakikatnya merupakan pantulan atau refleksi dari hasrat orang lain yang diproyeksikan kepada kita.

Dalam diskursus psikoanalisis yang dipaparkan Jacques Lacan pada Seminar XI (1964) yang kemudian dibukukan dalam The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis (Lacan, 1978), memperkenalkan konsep objet petit a (objek kecil ‘a’).

Secara teoritis objet petit a bukanlah sebuah entitas empiris yang dapat ditemukan dalam realitas objektif, melainkan sebuah sisa (remainder) atau surplus yang terjatuh dari proses signifikasi ketika subjek memasuki tatanan simbolik. Lacan memposisikan objek ini bukan sebagai tujuan akhir di mana hasrat akan terpuaskan, melainkan sebagai objek penyebab hasrat.

Lacan mengonseptualisasikan objek ini sebagai janji akan kebahagiaan yang utuh atau pemulihan jouissance yang hilang. Namun, esensi dari objet petit a justru terletak pada ketidakterjangkauannya, ini adalah fatamorgana yang mempertahankan ketegangan hasrat. Jika objek ini benar-benar tergapai, maka hasrat itu sendiri akan lenyap, yang secara psikis berisiko membawa subjek pada kehancuran atau kecemasan yang meluap.

Oleh karena itu, objet petit a adalah sebuah “objek-penyebab” yang menarik subjek dari masa depan, menjanjikan kepuasan total (jouissance) yang sebenarnya mustahil dicapai di dalam hukum bahasa. Dengan demikian, objek kecil ‘a’ adalah jangkar sekaligus kegagalan konstan yang memungkinkan ekonomi Hasrat manusia tetap beroperasi dalam siklus repetisi yang tak terhingga.

Pengalaman Pribadi: Gejala Objek Kecil ‘a’
Pada bulan Desember 2025 yang lalu, pengalaman pribadi saya dimulai ketika sebuah iklan di platform belanja daring menanpilkan pakaian yang tampak begitu memikat. Saat itu, pikiran saya sevara otomatis mulai menyusun sebuah narasi imajiner.

Saya membayangkan bahwa dengan memiliki dan mengenakan pakaian tersebut, penampilan saya akan berubah menjadi jauh lebih rapi, cantik, dan secara instan meningkatkan rasa percaya diri saya di hadapan orang lain.

Dalam kerangka berpikir psikologis, pakaian tersebut telah berubah fungsi menjadi apa yang disebut sebagai objet petit a, atau sebuah objek pemicu hasrat yang menjanjikan kelengkapan diri.

Namun, realitas yang saya hadapi setelah transaksi selesai justru berbicara lain. Ketika pakaian tersebut akhirnya sampai dan saya kenakan, ekspektasi indah yang saya bangun sebelumnya seketika runtuh.

Penampilan saya ternyata tidak mengalami transformasi drastic seperti dalam bayangan, bahkan secara teknis ukurannya terlalu besar sehingga tidak pas di tubuh saya. Janji akan perasaan percaya diri yang meluap-luap itu pun tidak terwujud. Pengalaman ini memunculkan pertanyaan besar mengenai mengapa kepuasan yang diharapkan sering kali tidak menjadi kenyataan.

Secara teoritis, Lacan menegaskan bahwa hasrat (desire) tidak beroperasi untuk mencapai kepuasan final, melainkan berfungsi sebagai mekanisme yang bertujuan untuk melanggengkan dirinya sendiri. Dalam kerangka ini, tujuan sejati hasrat bukanlah pencapaian objek, melainkan reproduksi dari dorongan untuk terus berhasrat secara terus menerus.

Kegagalan pemenuhan kebahagiaan total inilah yang justru menjadi mesin penggerak bagi siklus konsumsi bulanan. Kegagalan tersebut menciptakan residu ketidakpuasan yang memicu metonimia hasrat, di mana subjek mengalihkan investasinya dari satu objek ke objek berikutnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X