Paradoks Purbaya: Akankah Dia Tetap Tak Terbendung?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 28 Oktober 2025 | 06:36 WIB

Sebuah deklarasi bahwa ketaatannya bukan pada jaringan kuasa, melainkan pada mandat rakyat yang diwakili oleh pemimpinnya.

Teknokrasi-Profetik dalam Kepungan Oligarki

Paradoks Purbaya terletak pada latar belakang dan sikapnya:

Ia lahir dari lingkungan pendidikan sekuler, tetapi justru menghadirkan spiritualitas dalam kebijakan ekonomi.

Ia seorang ahli data, tetapi lebih takut pada dosa daripada pada rating kepercayaan pasar. Ia bagian dari kekuasaan, tetapi tidak bisa dibeli oleh permainan kekuasaan.

Di sinilah paradoks itu menjadi indah:

Rasionalitas yang terhubung pada Nur. Bukan kekuasaan yang memutuskan arah, tetapi nilai.

Dalam pandangan sufi, itulah syarat seorang wali al-amr, pemegang amanah yang setiap kebijakannya merupakan upaya mendekat kepada kebenaran.

Oposisi dari Mereka yang Takut Kehilangan Masa Lalu

Mengapa publik mencintainya namun elite gelisah?

Karena Purbaya merepresentasikan apa yang ingin kita capai, dan pada saat yang sama apa yang ingin kita tinggalkan:

Mentalitas rente yang berurat akar, budaya asal cair meski bocor, rasionalisasi untuk menutupi kebohongan anggaran.

Bagi kebanyakan, kebijakannya dirayakan sebagai momentum perlawanan rakyat. Namun bagi mereka yang terbiasa hidup dari celah gelap sistem, itu adalah ancaman eksistensial.

Paradoks Purbaya adalah cermin paling jujur dari paradoks bangsa: Kita ingin maju, tetapi takut meninggalkan zona nyaman kegelapan.

Dalam perspektif tasawuf, perubahan sejati tidak hanya mengubah aturan, tetapi juga mengubah kesadaran kolektif. Maka setiap langkah Purbaya: transparansi, integritas, disiplin fiskal, adalah terapi ruhani bagi bangsa yang lama terperangkap pada ilusi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X